bakabar.com, MARTAPURA - Petani di Banjar diminta untuk sekolah iklim. Tujuanmya untuk memberikan pemahaman mengenai kondisi cuaca dan iklim agar petani dapat menentukan waktu tanam yang tepat.
Sekarang padi yang di tanam petani di Banjar mengalami kekeringan. Di Desa Tungkaran, misalnya.
Menyikapi situasi yang berkembang, Dinas Pertanian Banjar memperkuat langkah antisipasi agar produktivitas pertanian tetap, terjaga sekaligus meminimalkan risiko kebakaran lahan dan kebun (karlabun).
"Salah satu upaya yang dilakukan adalah menyelenggarakan Sekolah Iklim untuk para petani," papar Kepala Dinas Pertanian Banjar, Warsita, Senin (13/7).
"Dengan sekolah iklim, petani diharapkan mampu mengatur jadwal tanam sesuai kondisi cuaca sehingga peluang keberhasilan hingga masa panen lebih besar," sambungnya.
Dinas Pertanian Banjar juga menyiapkan pompa air yang dapat dipinjam pakai oleh kelompok tani yang membutuhkan.
Di sisi lain, pemanfaatan pompa air yang telah dimiliki kelompok tani juga akan dioptimalkan agar dapat dimanfaatkan secara maksimal selama musim kemarau.
Memang ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga tanaman tetap tumbuh di tengah minimnya curah hujan.
Tidak hanya fokus pada sektor budidaya, dinas pertanian juga meningkatkan upaya pencegahan kebakaran lahan dan kebun. Misalnya dengan cara sosialisasi kepada petani dan pelaku usaha perkebunan mengenai bahaya serta pencegahan karlabun.
Pengawasan juga diperkuat dengan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kesiapan peralatan penanggulangan karlabun yang dimiliki pelaku usaha perkebunan maupun Kelompok Tani Peduli Api (KTPA).
"Sebagai bagian dari upaya edukasi kepada masyarakat, kami turut memasang spanduk berisi imbauan pencegahan kebakaran lahan dan kebun di sejumlah titik yang dinilai rawan," papar Warsita.
Langkah tersebut diharapkan dapat membantu petani menghadapi musim kemarau dengan lebih siap, menjaga produktivitas pertanian, sekaligus mencegah terjadinya kebakaran lahan yang berpotensi merugikan masyarakat maupun lingkungan.