bakabar.com, SAMPIT – Di tengah persiapan menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov), ratusan atlet Kotawaringin Timur (Kotim) justru dihadapkan pada persoalan klasik, anggaran yang tak kunjung cair.
Ketua KONI Kotim, Alexius Esliter, memastikan secara administratif persiapan tetap berjalan sesuai tahapan. Hingga kini, 24 cabang olahraga (cabor) telah mendaftar dengan jumlah atlet lebih dari 200 orang.
“Anggaran sebenarnya sudah disetujui, tapi sampai sekarang belum dicairkan,” ujar Alexius, Jumat (10/4/2026).
Ia menegaskan, KONI hanya sebagai penerima manfaat, sementara kendali anggaran berada di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora). Ketidakpastian pencairan membuat pihaknya hanya bisa menunggu.
“Kami terus mendorong agar segera dicairkan, karena kebutuhan cabor mendesak untuk persiapan Porprov. Tapi soal kapan cair, itu di Dispora,” katanya.
Akibatnya, sebagian besar atlet terpaksa berlatih secara mandiri dengan menanggung biaya sendiri, mulai dari perlengkapan hingga kebutuhan penunjang.
Kondisi ini juga memicu kekhawatiran akan potensi eksodus atlet ke daerah lain yang lebih siap secara finansial.
“Itu pilihan masing-masing. Kalau orientasinya keuntungan, ya seperti itu. Tapi kalau untuk membawa nama daerah, kembali ke komitmen atlet,” ucap Alexius.
Meski diliputi ketidakpastian, KONI memastikan Kotim tetap akan ambil bagian dalam Porprov.
“Pasti ikut,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Kotim, Dadang H Syamsu, menilai saat ini tanggung jawab berada di tangan Dispora. Ia meminta keterbukaan terkait kemampuan keuangan daerah.
“Kalau memang tidak sanggup, katakan saja. Jangan malu, supaya KONI bisa ambil langkah,” tegas Dadang.
Ia mengungkapkan, awalnya hibah untuk KONI hanya diusulkan Rp750 juta. Setelah pembahasan, anggaran disepakati naik menjadi Rp3 miliar.
Namun, pergantian pimpinan di Dispora membuat realisasi dana kembali menggantung. Kepala Dispora yang baru disebut masih berhati-hati dan belum memberi kepastian pencairan.
Dengan batas pendaftaran Porprov yang segera ditutup pada 10 April, Dadang mengingatkan agar keterlambatan ini tidak merugikan atlet.
“Jangan sampai atlet jadi korban. Mereka sudah berlatih keras, jangan dikorbankan karena persoalan administrasi,” tandasnya.







