bakabar.com, BANJARMASIN – Sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin resmi menerima kendaraan dinas baru berupa mobil listrik merek BYD Atto 1 Premium.
Mobil listrik tersebut merupakan produk yang baru diluncurkan di Indonesia pada ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025.
Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin, menegaskan pembelian kendaraan listrik itu telah disesuaikan dengan skala prioritas belanja daerah. Ia mengklaim kebijakan tersebut sejalan dengan arah kebijakan nasional serta diproyeksikan untuk kebutuhan jangka panjang.
“Ini sebenarnya kebijakan nasional. Ke depan tidak ada lagi oli dan bensin. Kita ingin transisi ke energi yang lebih ramah lingkungan,” ujar Yamin.
Selain dinilai ramah lingkungan dan hemat biaya operasional, Yamin juga menyebut pembelian kendaraan dinas dinilai lebih menguntungkan dibandingkan skema sewa yang selama ini diterapkan Pemkot Banjarmasin.
Bahkan, menurutnya, kendaraan tersebut berpotensi memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) di masa mendatang melalui mekanisme lelang setelah masa pakai lima tahun.
“Kita beli, lalu efisiensi BBM, ramah lingkungan, dan setelah lima tahun akan kita lelang. Dari situ ada PAD lagi. Jadi dibandingkan sewa unit, ini justru lebih murah dan efisien,” terang politisi Partai Gerindra tersebut.
Berdasarkan data pada laman sirup.inaproc.id, Pemkot Banjarmasin melalui Bagian Umum melakukan pembelian 21 unit BYD Atto 1 Premium dengan metode e-purchasing pada Januari 2026.
Paket pengadaan dengan kode RUP 63614318 tersebut memiliki pagu anggaran sebesar Rp5.250.000.000 yang bersumber dari APBD 2026. Dengan demikian, harga per unit mobil listrik tersebut mencapai Rp250 juta.
Namun, pembelian kendaraan dinas premium ini menuai polemik di tengah masyarakat. Pasalnya, kondisi keuangan Pemkot Banjarmasin tengah terdampak kebijakan efisiensi anggaran.
Sebelumnya, pemerintah pusat memangkas dana transfer untuk Kota Banjarmasin hingga 28 persen. Akibatnya, APBD Banjarmasin 2026 terpangkas sekitar Rp400 miliar, dari tahun sebelumnya, sehingga kini bernilai sekitar Rp1 triliun.