bakabar.com, TANJUNG - Desa Warukin, Kecamatan Tanta, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, saat ini mempunya binaan 3 kelompok Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).
Kelompok pertama, Mira Pakat, dengan produk olahan batik sasirangan dengan corak khas Dayak, Kelompok kedua, Lewu Sabak, dengan kerajinan senjata tajam khas Suku Dayak.
Kemudian kelompok ketiga Nare Uwei, dengan produk kerajinan di antaranya berupa anyaman.
Setiap kelompok terdiri dari puluhan pengerajin yang aktif membuat olahan dan memasarkannya baik di media sosial maupun dijual secara offline.
Kerajinan yang dibuat di antaranya berupa mandau, tombak, gelang simpai, pernak pernik berupa anting, kalung, gelang, laung.
Selain itu mereka juga membuat kerajinan berbahan rutan, kayu ulin, manik dan kulit kayu.
Untuk rutan di antaranya diolah menjadi anjat (tas ransel), kayu ulin dibuat hiasan tameng, manik dibuat kupiah dan sumping dan kulit kayu dibuat menjadi baju untuk laki-laki.
Setelah merintis cukup lama, geliat UMKM di Desa Warukin mulai terlihat sejak digelarnya Festival Dayak Maanyan, puncaknya pada 2025 lalu.
"Selain untuk melestarikan adat dan budaya, Festival Dayak Maanyan yang digelar pada bulan Agustus setiap tahunnya ini juga untuk mengenalkan olahan kerajinan tangan UMKM warga Warukin," kata Sekdes Warukin, Sajuanto, Kamis (18/6/2026).
Menurut Suju, bentuk dukungan lainnya terhadap UMKM di desanya, Pemdes Warukin juga melakukan pelatihan bagaimana cara memasarkan produk olahan secara digital di media sosial.
"Pelatihan terhadap pelaku UMKM ini bekerja sama dengan Dinas Kominfo dan DKUPP Kabupaten Tabalong," bebernya.
Selain itu, lanjut Saju, pihaknya juga memfasilitasi pelaku UMKM di Desa Warukin agar bisa mendapat permodalan dari perusahaan yang beroperasional di wilayahnya.
"Hasilnya para pelaku UMKM dalam menjalankan usahanya ada mendapat support dari perusahaan yang operasionalnya masuk wilayah Warukin," tutup Saju.
Berkat kegiatan yang dilaksanakan Pemdes Warukin dan pelatihan pemasaran kini UMKM nya bisa berkembang.
Setiap hari ada pengunjung yang datang untuk membeli sovenir dan lainnya, pengunjung tidak hanya dari Tabalong tapi juga dari luar.
Selain secara langsung, pembeli juga ada memesan secara online di media sosial, pembelinya ada dari Sumatera, Jawa, Bandung dan Jakarta.
"Rata-rata omset kami kini mencapai Rp 1 sampai 2 jutaan secara daring dan online mencapai Rp 1 jutaan," kata Irnawati, pelaku UMKM yang juga pemilik toko oleh-oleh Sitig Etnik Fashion Aksesoris Dayak di Simpang Bajut.
Irna menuturkan kalau produk UMKM di Warukin dipasarkan di tokonya, untuk kupiah manik-manik harganya berkisar di Rp 250 ribu, sumping untuk perempuan Rp 100 ribu.
Untuk gelang rutan di harga Rp 30.000, tameng dari kayu ulin dikisaran Rp 50 ribu sampai Rp 150.000 tergantung besar kecilnya.
Kalau mandau Dayak mulai Rp 300.000 sampai Rp 500.000 dan kain batik corak khas Dayak diharga Rp 185.000 sampai Rp 250.000, anjat dari rutan mulai harga Rp 75.000 sampai Rp 250.000.
"Dari kerajinan yang dipasarkan yang paling banyak diminati saat ini adalah anjat (anyaman dari rutan berbentuk seperti tas punggung)," beber Irna.
Irna mengucapkan terima kasih kepada Pemdes Warukin yang telah mendukung pelaku UMKM untuk terus berkembang.
"Terima kasih atas kegiatan-kegiatan yang digelar dan pelatihan pemasaran serta dukungan mencarikan permodalan kepada kami," pungkasnya.