Tak Hanya K-Pop, Budaya Panji Dinilai Bisa Mendunia Jika Dikelola Serius

Upaya melestarikan Budaya Panji di Kalimantan Selatan terus diperkuat melalui Dialog Budaya Panji di Tana Banjar yang digelar di Barito Kuala (Batola).

Dialog Budaya Panji di Tana Banjar yang diselenggarakan di Aula Selidah, Kompleks Perkantoran Pemkab Batola, Selasa (21/07/2026). Foto: bakabar.com/Bastian

bakabar.com, MARABAHAN – Upaya melestarikan Budaya Panji di Kalimantan Selatan terus diperkuat melalui Dialog Budaya Panji di Tana Banjar yang digelar di Barito Kuala (Batola).

Kegiatan tersebut merupakan rangkaian kedua dari program fasilitasi Kementerian Kebudayaan, setelah proposal pelestarian Budaya Panji di Kalimantan Selatan disetujui sejak 2025 dan direalisasikan mulai 2026.

Adapun puncak kegiatan direncanakan berlangsung September 2026 dengan mempertemukan tiga pusat Budaya Panji di Kalimantan Selatan, baik yang mengusung topeng, cerita dan wayang.

"InsyaAllah puncak kegiatan digelar September 2026 mendatang dengan mempertemukan Budaya Panji yang berkembang di Barikin (Hulu Sungai Tengah), Bakumpai (Batola) dan Banyiur (Banjarmasin)," papar Setia Budi selaku koordinator penyelenggara.

Tidak hanya sejumlah narasumber berkompeten, Dialog Budaya Panji di Tana Banjar dihadiri Wakil Bupati H Herman Susilo yang mendukung pelestarian budaya sebagai upaya memperkuat identitas daerah di tengah perubahan zaman.

"Kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu yang dipamerkan di museum atau dipentaskan dalam perayaan seremonial. Sejatinya dudaya adalah identitas, karakter, dan benteng moral bangsa," tegas Herman.

Dalam kesempatan tersebut, Herman prihatin melihat budaya Dayak Bakumpai yang perlahan mulai tergerus, terutama penggunaan bahasa daerah di kalangan generasi muda.

"Kami mengharapkan pembentukan desa wisata berbasis budaya Dayak Bakumpai sebagai salah satu langkah konkret menjaga keberlangsungan tradisi, sekaligus memperkenalkan kepada masyarakat luas," beber Herman.

"Saya tidak ingin kebudayaan Dayak Bakumpai menghilang seperti kebudayaan-kebudayaan di daerah lain. Momentum ini harus memperkuat komitmen agar budaya lokal tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri," tambahnya.

Sementara Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Kalsel, Manggar Sari Ayuati, menekankan bahwa terdapat mispersepsi tentang kebudayaan.

"Kebudayaan memiliki makna jauh lebih luas dibanding sekadar seni pertunjukan. Bahkan kuliner, bahasa, permainan tradisional, olahraga hingga cara masyarakat berinteraksi juga merupakan bagian dari kebudayaan," tukas Sari.

Pun pemerintah pusat telah menyiapkan dana abadi kebudayaan melalui Dana Indonesia Raya senilai Rp6 triliun berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

"Dana pokok tidak digunakan, melainkan hasil pengelolaan yang disalurkan kepada masyarakat untuk mendukung pelestarian budaya. Terakhir hampir Rp500 miliar disalurkan kepada masyarakat untuk mendukung pelestarian kebudayaan," beber Sari.

Dukungan yang tersebut cukup beralasan, mengingat pemajuan kebudayaan antara lain bermanfaat untuk membangun karakter bangsa, meningkatkan ketahanan budaya, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Terlebih naskah cerita yang melatari Topeng Panji telah diakui UNESCO sebagai Memory of the World. Juga pernah digelar Festival Panji Internasional 2023 yang diikuti 10 negara.

"Kalau dikelola benar-benar oleh negara, budaya akan banyak berpengaruh. Contoh sebut saja K-pop yang mendunia dan digemari banyak anak muda sekarang," ungkap Sari.

Dialog Budaya Panji di Tana Banjar yang diselenggarakan di Aula Selidah, Kompleks Perkantoran Pemkab Batola, Selasa (21/07/2026). Foto: bakabar.com/Bastian

"Memang K-pop baru terlihat meledak sekarang. Padahal milestone industrsi ini sudah dipersiapkan negara sejak beberapa tahun sebelumnya," tambahnya.

Lebih jauh lagi, praktisi budaya Lupi Anderiani mengungkapkan bahwa Topeng Panji Barikin bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan pusaka leluhur yang hanya boleh dipentaskan dalam ritual khusus.

"Sejatinya Topeng Panji di Barikin bukan hampir punah, tetapi memang tidak bisa dipentaskan setiap waktu karena merupakan bagian dari ritual seperti menyanggar banua," jelas Lupi.

Panopengan atau penari topeng di Barikin juga tidak sembarangan. Selain harus melewati prosesi tertentu, penari harus memiliki garis zuriah. Kalau sumpah ini dilanggar, si pengajar ataupun yang diajar akan mendapatkan konsekuensi tertentu.

Lantas untuk membuka ruang regenerasi tanpa menghilangkan nilai sakral, Lupi mengembangkan tari topeng di luar pakem Topeng Panji dengan mengambil kisah Mahabharata, khususnya tokoh Srikandi.

"Kami diajarkan agar menjaga budaya tidak hanya secara fisik, tetapi juga menjaga nilai. Artinya kalau bernilai sakral, berarti tetap harus disakralkan," sahut Lupi yang menerima Anugerah Astaprana dari Kesultanan Banjar ini.

Akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Putri Yunita Permata Kumala Sari, menjelaskan bahwa jejak Topeng Panji tidak dapat dipisahkan dari perkembangan Kerajaan Dipa, Negara Daha, hingga Kesultanan Banjar.

Kalau kemudian sampai ke Bakumpai, semuanya tidak lepas dari Muara Bahan (Marabahan) sebagai salah satu pelabuhan paling sibuk di masa lalu.

"Selanjutnya Topeng Panji menjadi identitas, warisan sejarah, media ritual dan pertunjukan, hingga sarana pendidikan nilai budaya," jelas Putri.

"Meski demikian, Topeng Panji Bakumpai memiliki kekhasan tersendiri. Salah satunya gerakan jentikan jari manis, serta pembagian pertunjukan antara yang bersifat ritual dan pertunjukan umum," imbuh dosen Prodi Sendratasik FKIP ULM ini.

Putri Yunita yang mengamati perkembangan Budaya Panji di Kalsel sejak 2012, mengingatkan sejumlah tantangan besar dalam upaya pelestarian.

"Memang akan banyak tantangan yang dihadiri. Mulai dari keterbatasan regenerasi pelaku seni, kelangkaan perajin topeng, pergeseran fungsi ritual, hingga kekurangan kajian ilmiah mengenai Budaya Panji," ungkap Putri Yunita.

"Meski demikian, peluang pelestarian masih terbuka melalui pemanfaatan teknologi digital, penelitian, festival budaya, dan kolaborasi antar komunitas," imbuhnya.

Sebelummnya Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Budaya dan Pariwisata (Disporbudpar) Batola, Sirpan, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pelestarian budaya melalui berbagai program.

"Salah satu capaian yang sudah diraih adalah penetapan kuriding dan badewa sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB). Malah Topeng Bakumpai juga telah ditampilkan di puncak peringatan Hari Jadi Batola," tutupnya.

Tentang Topeng Panji

Mengutip tulisan Henri Nurcahyo yang menggeluti Budaya Panji selama sekian tahun, Cerita Panji konon lahir di abad 13 atau masa Kerajaan Kediri dan menyebar luas seiring kejayaan Kerajaan Majapahit.

Cerita Panji seringkali divisualkan dalam topeng sebagai sarana penyamaran tokoh-tokoh dalam cerita yang berulangkali menggunakan nama dan penampilan berbeda untuk menyamar.

Panji Inukertapati menyamar sebagai Panji Wasengsari, Panji Jayakusuma, Panji Kudawanengpati, Joko Kembang Kuning, Remeng Mangunjaya, Ande-ande Lumut, Enthit, dan sebagainya.

Sedangkan Dewi Sekartaji juga menyamar sebagai pria tampan bernama Panji Semirang, menjadi pemusik dengan nama Warga Asmara, Dewi Limaran, Dalang Kuda Narawangsa, dan sebagainya. Penyamaran juga dilakukan para kadeyan (pengawal) Raden Panji dan Sekartaji.

Itulah sebabnya jejak-jejak Budaya Panji seringkali ditemukan dalam bentuk topeng, baik sebagai benda visual, dalam bentuk tarian, atau juga seni pertunjukan.

Cerita Panji lantas beradaptasi dengan budaya lokal masing-masing daerah dan negara-negara di Asia Tenggara. Tidak terkecuali di Kalimantan Selatan.

Di Banyiur, misalnya. Ditemukan Manopeng sebagai ritual tahunan untuk menyucikan benda-benda pusaka seperti keris dan tombak, serta terutama topeng berusia ratusan tahun, yang dilakukan oleh keluarga keturunan pemilik.

Proses penyucian itu dilakukan selama empat hari berturut-turut melalui serangkaian ritual berupa ziarah ke makam leluhur, membuat sesajian, wadai 41 macam, tapung tawar, memperapeni, dan pergelaran tari topeng.

"Manopeng sendiri dilakukan untuk menolak bala dan meminta berkat keselamatan dari leluhur dan roh nenek moyang," tulis Henri Nurcahyo

Tari Topeng sebetulnya tidak dibawakan sebagaimana tarian umumnya. Mereka yang menari terlihat tidak melakukan pola gerak baku, cenderung intuitif belaka, dan bergerak-gerak sesuai dengan karakter topeng.

Bahkan di kalangan penonton pun banyak yang terlibat dalam tarian tersebut manakala sudah mengenakan topeng. Mereka baru bisa menari, ketika dikenakan topeng yang cocok dengan karakter.

Sementara di Bakumpai, tepatnya Sungai Getas, Kelurahan Lepasan, Tari Topeng atau batuping memiliki narasi cerita yang tak ditemukan di Banyiur.