Bisnis Kreatif

Suka Duka Mitra Jago Coffee di Jakarta

Di tengah hiruk pikuk Ibu Kota Jakarta, tampak penjual kopi keliling, Jago Coffee menghiasi ruas jalan. Suka duka pun mereka rasakan.

Jago Coffee di Kawasan Guntur, Setiabudi, Jakarta Selatan. Foto: Andi M/apahabar.com

apahabar.com, JAKARTA - Di tengah hiruk pikuk Ibu Kota Jakarta, tampak penjual kopi keliling, Jago Coffee menghiasi ruas jalan. Suka duka pun mereka rasakan.

Salah satu mitra Jago Coffee, Albait Abdul menceritakan pengalamannya. Menjadi mitra selama empat bulan, susah senang ia lalui setiap harinya. 

Kata Bait, ia mampu membawa sebanyak 85 cup untuk dijual. Umumnya, stok itu sering ludes terjual. Namun terkadang juga masih ada yang tersisa.

Baca Juga: Jago Coffee, Inovasi Kreatif Anak Bangsa

"Hujan kehujanan, siang panas-panasan. Kalau hujan biasanya nggak habis sih, paling tersisa belasan," ujar Bait saat ditemui apahabar.com di kawasan Guntur, Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (17/8).

Beberapa lokasi yang pernah ia sambangi untuk mangkal berjualan ada saja pungutan liar (pungli). Tak tanggung-tanggung, nominal yang dipatok untuk lapak berjualan mencapai Rp6 juta perbulan.

Ketika itu, lanjut Bait, ia hanya bisa menggelengkan kepala. Apalagi saat itu dirinya baru bergabung menjadi mitra. Tanpa pikir panjang ia langsung berpindah lokasi.

Ia mengaku bahwa pungli-pungli seperti itu sudah menjadi hal yang lumrah di Jakarta. Sebab, hampir di setiap kawasan Ibu Kota terdapat preman.

Meski begitu, para mitra Jago Coffee tidak sembarangan memarkirkan sepeda listrik mereka untuk berdagang. Mereka dikoordinasikan Terlebih dahulu oleh pihak kantor untuk menetap di satu lokasi.

Namun jika ada kendala, harus segera dikoordinasikan pihak kantor. Seperti halnya pungli. Nantinya, koordinator yang bakal memberi instruksi lebih lanjut.

"Kalau di sini (kawasan Guntur) tidak ada (pungli)," tutur Bait.

Di sisi lain, Bait mengaku senang dengan hadirnya bisnis konsep kopi keliling itu memberikan ruang untuk dirinya mendapatkan pundi-pundi cuan.

Walau tak seberapa, katanya, insentif yang diberikan jika seluruh cup ludes terjual setiap hari. Pendapatan perbulan mampu tembus sekitar Rp4-5 juta.

"Kalau gaji ya Rp1,6 juta. Insentifnya yang lumayan. Kalau habis semua kisaran Rp750 ribu bonusnya," katanya.

Baca Juga: Starling: Pedagang Kopi Keliling yang Eksis di Jakarta

Kemudian, untuk jadwal libur sepekan sekali setiap hari Minggu. Jadwal itu berlaku bagi seluruh mitra. 

Kata Bait, sistem kerja dibagi menjadi dua shit. Shift pagi mulai pukul 06.00-12.00 WIB. Kemudian shift siang mulai 12.00-18.00 WIB.

"Datang ke kantor dulu absen di Jalan Karet Pedurenan (Jakarta Selatan), taruh motor, kemudian bawa dagangan ke sini," jelasnya.