Salim Said Wafat, Tokoh Pers Nasional, Pengamat Militer sekaligus Saksi Sejarah

Salim Said mengembuskan napas terakhirnya di RSCM pada usia 80 tahun.

Prof. Salim Said (Foto: YouTube)

bakabar.com, JAKARTA -- Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Kabar duka menyelimuti dunia pers Tanah Air. Tokoh pers nasional, akademisi, sejarawan, pengamat militer, praktisi perfilman dan mantan duta besar Prof Dr Salim Said , meninggal dunia pada Sabtu (18/5/2024) malam, pukul 19.33 WIB.

Prof Salim Said wafat setelah kondisi kesehatannya terus menurun saat dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Ia mengembuskan napas terakhirnya di RSCM pada usia 80 tahun.

Janazah almarhum Prof Salim Said disemayamkan di rumah duka di Jalan Redaksi Nomor 149, Kompleks Wartawan PWI, Cipinang, Jakarta Timur.

Sejumlah tokoh aktivis, akademisi, politikus, pimpinan DPD, pejabat pemerintahan, pejabat TNI, sampai Presiden Terpilih Prabowo Subianto mengirimkan karangan bunga ke rumah duka sebagai tanda berduka atas wafatnya Prof Salim Said.

Karangan bunga itu berdatangan satu per satu ke rumah duka di Jalan Redaksi, Kompleks PWI, Cipinang, Jakarta, sejak Sabtu malam sampai Minggu.

Almarhum, dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, pada Ahad siang (19/5/2024) sekitar pukul 13.30 WIB.

Terlihat mengghadiri pemakaman, sejumlah tokoh nasional di antaranya mantan Ketua MK Jimly Asshiddiqie, mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, Slamet Rahardjo, dan lainnya.

Salim Said lahir di sebuah desa bernama Amparita, sebuah wilayah yang pada saat masa Hindia Belanda merupakan bagian dari Afdeling Parepare (saat ini menjadi bagian dari Kabupaten Sidenreng Rappang).

Ia merupakan putra sulung dari Haji Said dan Hajjah Salmah. Ia menyelesaikan pendidikan dasar di Parepare dan menanamkan SMA di Surakarta, Jawa Tengah.

Salim mengikuti pendidikan di Akademi Teater Nasional Indonesia (1964–1965), Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1963–1968, tidak selesai), tamat Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (1977), dan meraih M.A. dari Ohio University (1980), serta Ph.D. dari Ohio State University, Columbus, Amerika Serikat (1985).[4]

Karier

Salim Said pernah menjadi redaktur Pelopor Baru, Angkatan Bersenjata, dan redaktur Majalah Tempo (1971-1987). Salim pernah mengajar di Sekolah Ilmu Sosial dan menjadi anggota Dewan Film Nasional.

Sebagai anggota dari Dewan Film Nasional dan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), ia sering berpartisipasi dalam diskusi tentang film, sejarah, sosial dan politik Indonesia dalam tingkat nasional maupun internasional.

Sejak 2000, Salim menjadi dosen luar biasa di Universitas Muhammadiyah Malang. Pada 2005, ia melampaui syarat angka kredit dan diangkat dalam jabatan sebagai guru besar Fakultas Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang.

Hasil karya buku yang ia tulis antara lain, Militer Indonesia dan Politik: Dulu, Kini, dan Kelak; Profil Dunia Film Indonesia; Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian (2013); Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno, dan Soeharto (edisi diperkaya, 2018).

Pengamat politik dan militer Universitas Nasional (Unas) Selamat Ginting mengungkapkan sosok almarhum Prof Salim Said menjadi kamus berjalan bagi wartawan dan akademisi jika membahas masalah politik dan militer, terutama era 1990-2010-an.

"Kelebihan almarhum Salim Said karena dia wartawan sekaligus ilmuwan sosiologi dan politik, sehingga kaya dengan data, fakta, dan pengalaman empirisnya," kata Selamat Ginting di Jakarta, Minggu (19/5/2024).

Ia merasa kehilangan dengan wafatnya Salim Said dalam usia 80 tahun. Selamat Ginting yang juga wartawan dan ilmuwan politik, mengungkapkan figur Salim merupakan trendsetter bagi dirinya.

"Saya belajar banyak dari almarhum, karena mengawali sebagai wartawan politik dan militer dan kemudian menjadi ilmuwan politik. Jadi almarhum Salim Said menjadi idola yang saya ikuti kiprahnya," kata dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unas itu, sebagaimana dilansir republika.co.id.

Dikemukakan, pengalaman Salim Said saat menjadi wartawan politik dan militer di era pergantian kepemimpinan nasional dari presiden Sukarno hingga presiden Soeharto membuatnya banyak mengetahui sejarah dinamika politik era tersebut.

"Otomatis sebagai wartawan, beliau juga saksi sejarah, sehingga menjadi narasumber yang memiliki informasi yang banyak dan valid," ujar Ginting yang selama 30 tahun menjadi wartawan.

Salim Said, lanjut Ginting, merupakan pengamat senior bidang politik dan militer, bukan dengan modal browsing di internet. Melainkan sebagai wartawan dan dosen punya kedekatan dengan sumber-sumber berita yang relevan untuk mendapatkan informasi mendalam.

Selain bidang politik dan militer, Salim Said juga terlibat dalam kegiatan kesenian dan film. "Sehingga otak kanan dan kirinya bisa seiring sejalan dalam menjawab pertanyaan dalam diskusi," ujar Selamat Ginting yang kini mengikuti jejak perjalanan Salim Said sebagai gurunya.(*)