Konsumsi Gas Rumah Tangga

Saat Ramadan, Konsumsi Gas Rumah Tangga dan UMKM Naik 15 Persen

Konsumsi bahan bakar gas untuk RT serta UMKM naik 10 - 15 persen karena aktivitas memasak masyarakat meningkat saat Ramadan 144 Hijriah.

Petugas PGN saat memeriksa gas dinsalah satu rumah warga di Kota Surabaya. Foto: ANTARA

apahabar.com, JAKARTA - Konsumsi bahan bakar gas untuk rumah tangga (RT) serta usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) naik antara 10 persen hingga 15 persen karena aktivitas memasak masyarakat meningkat saat Ramadan 144 Hijriah.

"Terutama yang bergerak di bidang makanan selama momen Ramadhan dan Lebaran ini," ujar General Manager Sales & Operation PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) Region III, Edi Armawiria dalam keterangan tertulisnya di Surabaya, Kamis (30/3).

Edi mengatakan, rata-rata konsumsi gas PGN di sektor rumah tangga (RT) pada hari normal mencapai 12 - 13 m3/bulan per pelanggan atau setara 12 kg tabung gas. Sedangkan konsumsi gas UMKM sekitar 50 m3/bulan per UMKM.

Hal itu juga disampaikan Edi pada kegiatan Sosialisasi Rencana Kerja Media Komunikasi Publik di Surabaya, Rabu (29/3).

Baca Juga: Program BBM Satu Harga, BPH Migas Siap Bantu Pemerintah

"Pada saat Ramadhan sekarang ini sudah mulai ada kenaikan, baik segmen UMKM khususnya bidang makanan dan minuman, serta RT karena umumnya rumah tangga aktif memasak untuk persiapan sahur dan buka," katanya.

Selain itu, lanjutnya, kenaikan konsumsi gas juga terjadi pada sektor industri terutama berbasis makanan yang umumnya mulai menggenjot produksinya sebelum ada libur Lebaran.

"Semua kegiatan akan meningkat ketika Ramadhan, tetapi pada saat H-7 Lebaran biasanya konsumsi gas justru agak menurun karena industri banyak yang libur," ujarnya.

Edi menambahkan, untuk memastikan suplai gas ke konsumen melalui jaringan PGN terjamin, pihaknya telah menyiapkan program siaga PGN yang telah dimulai sejak awal Ramadan.

Baca Juga: Sarana Edukasi Bagi UMKM, Bank Kalteng Manfaatkan Pasar Ramadan

"Setiap hari besar keagamaan, maupun momen tahun baru, kami lakukan siaga khusus untuk menjamin penyediaan energi karena gas ini juga digunakan untuk rumah tangga, industri dan transportasi. Siaga dilakukan dengan pengecekan jaringan, perbaikan, dan pemantauan agar tidak ada gangguan dalam suplai," ucapnya.

Khusus H-7 sampai H+7, akan ditingkatkan lagi karena kebutuhan gas transportasi dengan kebutuhan BBM transportasi berbalik. "H-7 sudah mulai turun, siaga lebih pada menjaga ketahanan infrastruktur karena konsumsi menurun," pungkasnya.