bakabar.com, MARTAPURA - Banjir yang melanda Banjar dalam hampir terakhir berdampak signifikan terhadap dunia pendidikan.
Dinas Pendidikan (Disdik) Banjar mencatat sebanyak 210 satuan pendidikan terdampak, mulai dari jenjang PAUD hingga SMP.
Rinciannya 116 Sekolah Dasar (SD), 20 Sekolah Menengah Pertama (SMP), serta 74 satuan pendidikan PAUD dan PKBM terdampak banjir.
Banjir tersebut berdampak langsung kepada lingkungan sekolah dan mengganggu aktivitas belajar mengajar.
Sebanyak 41 sekolah terdampak di area halaman, sementara 169 sekolah lain sudah tergenang air hingga ke ruang kelas.
Hal tersebut membuat pembelajaran tatap muka tidak memungkinkan dilakukan. Dengan mempertimbangkan faktor keselamatan, Disdik Banjar memutuskan untuk mengalihkan sementara proses pembelajaran pada sekolah terdampak ke Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Kebijakan ini tertuang dalam Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar Nomor 400.3.6.1/007/Disdik/2026, yang mengacu pada Surat Edaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI terkait penyelenggaraan pembelajaran di wilayah terdampak bencana.
"Keselamatan peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan menjadi prioritas utama. Karena itu, pembelajaran sementara dialihkan ke PJJ," papar Kadisdik Banjar, Liana Penny.
Dalam surat edaran tersebut dijelaskan bahwa pelaksanaan PJJ dilakukan secara fleksibel dan adaptif, menyesuaikan kondisi masing-masing sekolah dan peserta didik.
Proses pembelajaran dapat dilakukan melalui berbagai media daring maupun luring, seperti WhatsApp, Google Classroom, modul belajar mandiri, atau media lain yang memungkinkan.
Selain itu, sekolah juga diminta melakukan penyesuaian kurikulum dengan memprioritaskan materi esensial, memberikan dukungan psikososial, serta edukasi terkait kesehatan, keselamatan, dan mitigasi bencana.
Sementara itu, satuan pendidikan di wilayah yang tidak terdampak banjir tetap melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) seperti biasa.
"Kami akan terus melakukan monitoring dan koordinasi dengan pengawas pembina serta pihak terkait untuk memastikan proses pendidikan tetap berjalan," paparnya.
Untuk pembelajaran tatap muka, akan kembali dilaksanakan setelah kondisi sekolah dinyatakan aman dari bencana.