Puluhan Tahun Menunggu, Warga Gang Teluk Mendung Banjarmasin Perbaiki Jalan Pakai Dana Pribadi

Warga Gang Teluk Mendung RT 17, Jalan Antasan Bondan, Kelurahan Mantuil, Kota Banjarmasin, melakukan perbaikan jalan lingkungan menggunakan dana pribadi

oleh Baha
Warga Gang Teluk Mendung RT 17, Jalan Antasan Bondan, Kelurahan Mantuil, Kota Banjarmasin, melakukan perbaikan jalan lingkungan secara swadaya menggunakan dana pribadi pada Minggu (5/7/2026). Foto: baha

bakabar.com, BANJARMASIN - Warga Gang Teluk Mendung RT 17, Jalan Antasan Bondan, Kelurahan Mantuil, Kota Banjarmasin, melakukan perbaikan jalan lingkungan secara swadaya menggunakan dana pribadi pada Minggu (5/7/2026).

Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap kondisi jalan yang mengalami kerusakan dan dinilai mengganggu aktivitas sehari-hari warga.

Perbaikan dilakukan melalui gotong royong dengan melibatkan warga setempat yang secara sukarela menyumbangkan dana, tenaga, dan waktu demi menciptakan akses jalan yang lebih aman dan nyaman.

Salah satu warga, Doni Effendi mengatakan perkembangan jalan di tempatnya berjalan sangat lamban.

Sebelum seperti sekarang, menurutnya, akses jalan yang kini ada juga hasil dari kemandirian warga, karena keberadaan jembatan yang telah ada tak diiringi dengan akses jalan yang cukup layak.

“Dulu memang sudah ada jembatan, warga merasa setelah turun itu bukan jalan, jadi dibuatlah dari jalur tanah bisa menjadi jalan dengan cara disiring dan diisi tanah,” ujarnya, Minggu (5/7/2026) pagi.

Seiring bertambahnya penduduk dan ramainya lalu lalang warga, jalanan dinilai perlu mendapat perhatian lebih untuk segera diperkokoh.

Akhirnya hari ini, bermodal semen dan pasir, mereka mengangkut meterial tersebut sepanjang ratusan meter dari depan gang menggunakan kendaraan.

Pekerjaan dimulai dari jalan setapak di ujung gang dengan cara mengecornya dengan adukan semen basah. Meski hasilnya yang diperoleh masih sangat sedikit.

Doni menilai, akses jalan tersebut satu-satunya urat nadi warga dalam menjalankan roda aktivitas sehari-hari, seperti mengangkut hasil pertanian maupun melintas untuk bekerja sebagai buruh pelabuhan maupun bangunan.

Lokasinya juga berdiri persis di samping lahan persawahan, berdekatan dengan Sungai Martapura.

Selama puluhan tahun, ia menilai, akses jalanan di sana nihil tersentuh oleh pemerintah. Namun, upaya warga juga masih jauh dari kata layak, apa lagi mendekati sempura.

“Ini akses satu-satunya warga untuk beraktivitas. Selain kondisi jalanan yang kurang layak untuk warga dan anak-anak, jalur ini juga tidak punya penerangan,” tambah Doni.

Kondisi tersebut kerap memberikan tantangan lebih bagi warga yang memiliki keperluan di malam hari. Tak jarang, mereka hanya mengandalkan senter gawai untuk melihat kondisi jalan.

Selain itu, kondisinya juga dinilai rawan saat malam hari, potensi adanya gangguan hewan melata kerap muncul karena berdekatan dengan area sawah.

Belum lagi, menjelang musim hujan dan pasang, kalanan menjadi becek dan tergenang banjir.

Akibatnya, warga berpotensi mengalami kecelakaan saat melintas menggunakan sepeda motor.

“Sudah banyak warga yang jatuh, entah karena ada lubang akibat becek atau tidak melihat lantaran pasang,” ungkapnya.

Ia berharap, Pemerintah Kota Banjarmasin dapat memberikan perhatian. Warga juga tidak bisa berharap bantuan sosial terkait infrastruktur kepada pihak swasta, meski bermukim dekat dengan sejumlah perusahaan.

Ketua RT 17, Masli, menyebut jalanan di dalam gang tempat warga bermukin memiliki panjang sekitar 560 meter dengan lebar tidak sampai satu meter. Lokasinya di huni lebih dari 100 kepala keluarga (KK).

Ia mengungkapkan, permohonan untuk mengajukan perbaikan jalan sudah pernah dilakukan. Bahkan cukup sering dilakukan ketua RT sebelum dirinya.

“Sudah sering. Saya habis dilantik bulan April 2026 tadi juga mengajukan ke kelurahan. Sampai sekarang masih belum ada tindak lanjut,” ucapnya.

Hal lain, seperti penerangan juga diajukan sebanyak 31 titik. “Namun sampai sekarang juga belum,” katanya.

Ia berharap, akses jalan di sana mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Banjarmasin. Mengingat, kondisi tersebut telah berlangsung puluhan tahun.

Dikonfirmasi, Kepala Bidang Jalan dan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin, Kartika Estaurina menyebut masih perlu melakukan pengecekan.

“Biar kita cek, apa termasuk kewenangan Disperkim?,” singkatnya.