bakabar.com, BANJARMASIN – Tingginya minat masyarakat untuk menempuh pendidikan di Fakultas Farmasi Uniska MAB membuat proses penerimaan mahasiswa baru tahun akademik ini dilakukan secara ketat.
Selain seleksi akademik, calon mahasiswa juga diwajibkan mengikuti tes kesehatan, termasuk tes narkoba dan tes buta warna.
Dekan Fakultas Farmasi, apt. Hasniah, M.Farm, menjelaskan bahwa penerimaan mahasiswa baru dilakukan melalui beberapa jalur, yakni jalur reguler dan jalur prestasi.
"Jalur prestasi terdiri dari beberapa kategori, seperti peringkat akademik, prestasi lomba tingkat nasional seperti Olimpiade Sains Nasional (OSN), hafiz Al-Qur'an, hingga jalur nilai UTBK," ujarnya, Minggu (28/6).
Khusus jalur UTBK, calon mahasiswa yang ingin masuk Program Studi Farmasi diwajibkan memiliki nilai minimal di atas 500 untuk dapat mengikuti proses seleksi.
Sementara itu, Wakil Dekan II Fakultas Farmasi, apt. Muhammad Fauzi, M.Farm, mengungkapkan bahwa antusiasme pendaftar tahun ini cukup tinggi. Tercatat sekitar 30 peserta mengikuti seleksi melalui jalur prestasi, sedangkan jalur reguler diikuti sekitar 69 pendaftar.
"Seluruh peserta nantinya akan diseleksi sesuai kuota yang tersedia," katanya.
Tahun ini, Program Studi Farmasi menyediakan kuota sebanyak 75 mahasiswa untuk jenjang Sarjana (S1).
Selain itu, Fakultas Farmasi juga membuka Program Profesi Apoteker dengan kuota sebanyak 20 peserta.
Untuk Program Profesi Apoteker, proses seleksi dilakukan melalui beberapa tahapan, di antaranya Computer Based Test (CBT) dan Objective Structured Clinical Examination (OSCE) yang mengukur kemampuan praktik calon apoteker.
Selain kemampuan akademik, aspek kesehatan juga menjadi perhatian utama. Salah satu syarat yang wajib dipenuhi calon mahasiswa adalah tidak mengalami buta warna.
Menurut Fauzi, tes buta warna diperlukan karena pembelajaran di bidang farmasi banyak melibatkan praktikum laboratorium yang membutuhkan kemampuan membedakan warna secara akurat.
"Di Farmasi banyak praktikum yang berkaitan dengan identifikasi warna. Jika mahasiswa mengalami buta warna, terutama parsial, tentu akan berisiko saat praktikum maupun ketika nanti bekerja di bidang kefarmasian," jelasnya.
Ia menambahkan, kasus yang paling sering ditemukan adalah buta warna parsial, seperti kesulitan membedakan warna biru dan hijau atau warna merah dengan warna tertentu lainnya. Apabila dalam pemeriksaan awal ditemukan indikasi buta warna, peserta akan diberikan kesempatan menjalani pemeriksaan lanjutan oleh dokter untuk memastikan hasil diagnosis.
Fakultas Farmasi menegaskan bahwa kemampuan mengenali warna merupakan salah satu kompetensi dasar yang penting dalam dunia kefarmasian. Ketelitian dalam mengidentifikasi bahan, membaca perubahan warna pada pengujian laboratorium, hingga mengenali karakteristik obat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari profesi farmasi dan apoteker.
"Dalam dunia farmasi, ketelitian sangat penting. Kesalahan dalam mengenali warna bahan atau obat dapat berdampak pada proses praktikum maupun pelayanan kefarmasian di masa depan," pungkas Fauzi.