Pemberantasan Prostitusi di Pembatuan Banjarbaru Dipertanyakan, Wali Kota Buka Suara

Kasus pembunuhan seorang pekerja seks komersial atau PSK di eks lokalisasi Pembatuan Banjarbaru menarik perhatian masyarakat. 

Pelaku pembunuhan seorang PSK di Pembatuan berinisial M, ketika diinterogasi di Polsek Liang Anggang. Foto: apahabar.com/Fida

apahabar.com, BANJARBARU - Kasus pembunuhan seorang pekerja seks komersial (PSK) di eks lokalisasi Pembatuan, Banjarbaru, banyak menarik perhatian masyarakat. 

Banyak yang mempertanyakan keseriusan penanganan eksistensi bisnis lendir tersebut, mengingat Pembatuan sudah resmi ditutup Pemkot Banjarbaru sejak 2016 silam. 

"Banyak yang membahas berita pembunuhan itu. Apakah lokalisasi di Pembantuan masih buka?" tanya Mawan, warga Kecamatan Landasan Ulin kepada apahabar.com, Jumat (14/7). 

Senada dengan Mawan, warga Loktabat Utara bernama Wahyu juga mempertanyakan eksistensi Pembatuan. 

"Setelah membaca berita pembunuhan itu, akhirnya saya tahu kalau Pembatuan ternyata masih aktif. Padahal yang saya tahu, Pembatuan sudah lama ditutup," tukas Wahyu.

Sementara ketika dikonfirmasi, Wali Kota Aditya Mufti Ariffin menegaskan bahwa aktivitas PSK di Pembatuan dilakukan kucing-kucingan, sehingga instansi terkait kesulitan melakukan pengawasan. 

"Pemkot Banjarbaru dan saya pribadi selalu mengingatkan kepada Satpol PP agar langsung melakukan pengecekan lapangan, seandainya mendapat informasi perihal aktivitas di Pembatuan," tegas Aditya.

"Termasuk juga berkoordinasi dengan kepolisian agar sampai PSK berkeliaran. Kami juga menegaskan semua tempat prostitusi benar-benar telah ditutup melalui berbagai cara," imbuhnya.

Selain menutup aktivitas, salah satu cara Pemkot Banjarbaru membasmi prostitusi di Pembatuan adalah dengan mendirikan fasilitas ruang publik seperti lapangan dan Ruang Terbuka Hijau (RTH). 

"Proses pembangunan ruang publik di Pembatuan sedang berlangsung. Kalau sudah selesai dan ramai didatangi masyarakat, kami berharap orang-orang yang terlibat dalam prostitusi akan segan beraktivitas," jelas Aditya.

Aditya juga mengakui bahwa penutupan dan pemberian bantuan alih profesi, ternyata belum efektif menghentikan aktivitas di Pembatuan. Artinya harus dipersiapkan banyak opsi agar prostitusi di Pembantuan benar-benar dapat diberangus.

"Selain membangun RTH, kami juga terus mengedukasi agar mereka yang terlibat beralih profesi. Mungkin mendirikan rumah makan atau usaha lain, sehingga mereka bisa beralih dari bidang itu," tegas Aditya.

Sebelumnya seorang PSK diduga tewas dibunuh oleh seorang calon pelanggan berinisial M (25), Kamis (13/7) di Pembatuan. Dari hasil penyelidikan polisi, korban kehabisan napas lantaran dicekik pelaku.

Pelaku sendiri berhasil ditangkap Polsek Liang Anggang, sekitar 60 menit setelah korban ditemukan tewas.