Merayakan Tahun Baru

'Pembebasan' Derita Manusia dalam Tradisi Lonceng Tahun Baru di Jepang

Riuh gemerlap kembang api biasanya jadi salah satu cara merayakan tahun baru. Namun, ada yang berbeda dengan tradisi di Jepang.

Tradisi Jyo no Kane dengan membunyikan lonceng di Jepang. Foto: Dok. Flickr.

apahabar.com, JAKARTA - Riuh gemerlap kembang api biasanya jadi salah satu cara merayakan tahun baru. Namun, ada yang berbeda dengan tradisi di Jepang, di mana juga memeriahkan momen pergantian tahun dengan membunyikan lonceng. 

Tradisi yang demikian dinamakan Jyoya no Kane. Bukan cuma berdenting sekali, lonceng yang diletakkan di kuil itu bakal ibunyikan sebanyak 108 kali.

Sembari mendengarkan lonceng yang bergema di langit musim dingin, orang Jepang akan berdoa dalam hati. Utamanya, mereka berharap di tahun mendatang kehidupannya tak penuh derita.

'Pembebasan' Derita Manusia

Ya, tradisi Jyoya no Kane memang identik dengan kepercayaan orang Jepang akan kebebasan dari derita, sebagaimana diyakini dalam ajaran Buddha.

Jumlah dentingan lonceng dalam tradisi Jyoya no Kane punya makna mendalam. Itu merujuk pada ajaran Buddha, di mana angka 108 merupakan jumlah penderitaan dan rintangan yang bakal dialami manusia dalam kehidupan.

Sebab itulah, lonceng dibunyikan 107 kali sebelum tahun berganti, dengan harapan  terbebas dari kesedihan dan penderitaan selama setahun belakangan.

Lonceng itu biasanya akan dibunyikan di sejumlah kuil di seluruh Jepang mulai pukul 23.00 waktu setempat – bukan pakem yang mesti ditaati semua kuil. Adapun yang membunyikan lonceng itu biasanya adalah para pendeta Buddha.

Barulah saat memasuki hari baru, lonceng kembali dibunyikan satu kali. Harapannya, tahun yang baru ini tidak akan dipenuhi penderitaan.