Pendatang Baru Jakarta

Pasca-Lebaran, Diperkirakan 40 Ribu Pendatang Mengadu Nasib di Jakarta

Dukcapil DKI Jakarta memperkirakan para pendatang baru yang akan masuk Jakarta mencapai 40 ribu pasca-Lebaran tahun ini.

ILUSTRASI Pendatang. Foto-Poskotanews.com

apahabar.com, JAKARTA - Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) DKI Jakarta memprediksi akan ada 40 ribu pendatang baru tiba di ibu kota pasca Lebaran tahun ini.

Angka jumlah pendatang baru tersebut meningkat 20 persen dibanding tahun sebelumnya. Pihak Dukcapil DKI saat ini masih melakukan proses pedataan para pemilir yang tiba di Jakarta. 

"Pendatang masih kita data selama satu bulan, untuk penduduk yang nonpermanen dan penduduk yang ingin menetap di DKI," kata Kepala Dinas Dukcapil DKI Budi Awaluddin kepada wartawan di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Rabu (26/4).

Baca Juga: Disdukcapil DKI Rumuskan Pendataan Pendatang Usai Lebaran

Pada tahun lalu total ada 27 ribu pendatang usai lebaran 2020. Sedangkan tahun ini, diperkirakan sekitar 36 ribu sampai 40 ribu orang. 

"Ya perkiraannya kita ada penambahan sekitar 20 sampai 30 persen. Jadi perkiraannya dari 36 sampai 40 ribu. Kalau tahun kemarin di 2022 itu 27 ribu ya, dan penduduk nonpermanen sekitar 3 ribu. 30 ribuan ya berarti sekitar 36 ribu," ujarnya.

Merujuk catatannya Dukcapil DKI, selama kurun tiga tahun terakhir, mayoritas pendatang berasal dari latar belakang pendidikan di bawah SMA dengan penghasilan rendah. Mereka mengadu nasib ke Jakarta lantaran tidak ada peluang 

"Kita lihat tren pendatang selama 3 tahun, pendatang 80 persen dari mereka itu berpendidikan SMA ke bawah. 50 persen dari mereka berpenghasilan rendah dan mereka 20 persen ada di RW kumuh, begitu," ucap Budi.

Baca Juga: Makin Ketat, Kini Data Akun Kripto Terhubung dengan Dukcapil

Oleh karena itu, diimbau para pendatang agar memiliki kemampuan atau skill pekerjaan saat menetap. Peningkatan jumlah pendatang ini menjadi beban pemprov DKI apabila pendatang tidak memiliki modal ketrampilan, pekerjaan, dan juga tempat tinggal. 

"Kita mengimbau mereka punya skill keterampilan dan juga pekerjaan sehingga pas datang ke Jakarta mereka siap, siap mental mengadu nasib ke Jakarta sehingga kondisinya tidak lebih sulit saat mereka datang ke Jakarta," pungkasnya.