Mendesak Pemkot Banjarmasin Benahi Taman Satwa Jahri Saleh

Taman Satwa Jahri Saleh di Banjarmasin memelihara puluhan binatang dalam kandang yang buruk, kotor, dan sepi.

Termenung: seekor kera ekor panjang duduk lesu di balik kandang yang kotor. Foto: bakabar.com/Riyad.

Taman Satwa Jahri Saleh di Banjarmasin memelihara puluhan binatang dalam kandang yang buruk, kotor, dan sepi.

Riyad Dafhi Rizki, Banjarmasin

Alih-alih sukacita, perasaan sedih akan merundung hati, seketika kaki anda mulai memasuki gerbang Taman Satwa Jahri Saleh di Banjarmasin.

Bagaimana tidak, kondisi kebun binatang seluas kurang lebih 1,6 ha ini sudah seperti penjara bagi satwa yang menghuninya.

Penulis mengunjungi taman satwa yang dikelola oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin ini pada Kamis, 1 Februari 2024.

Untuk masuk, setiap pengunjung mesti membayar karcis yang bertarif Rp3 ribu untuk anak-anak, atau Rp5 ribu untuk dewasa.

Tak terurus: halaman taman Jahri Saleh ditumbuhi tanaman dan rumput liar. Foto: apahabar.com/Riyad.

Ketika di dalam, pemandangan pertama yang akan tampak adalah halaman taman yang tak terurus. Ditumbuhi rumput, dan tanaman liar, ditambah daun-daun kering, serta sampah yang berserakan.

Ada pula patung monyet yang warnanya telah memudar. Kolam air mancur yang sudah tak berfungsi. Juga sarana permainan anak seperti jungkat-jungkit, mangkuk putar, ayunan, perosotan, yang besinya mulai diselimuti karat.

Di samping itu, taman satwa ini kelewat sepi pengunjung. Satu jam lebih nangkring di sana, hanya ada dua orang warga yang mendatangi kawasan tersebut. 

Bicara soal kandang, taman satwa ini punya beberapa zona yang ditetapkan oleh pengelola. Meliputi zona aves (burung), zona rusa, zona primata, zona reptil, zona poultry, zona buaya, dan zona satwa air. 

Tetapi, kondisi sejumlah zona satwa tersebut kini amat menyedihkan. Tak layak dikunjungi.

Penulis masih ingat, waktu berkunjung sekitar tahun 2016, kondisi kebun binatang ini masih lebih baik. Cukup banyak koleksi satwa langka di tempat ini, dari berbagai jenis ular, burung unta, beruang madu, hingga rusa. 

Entah ke mana keberadaan satwa-satwa itu. Sebagian dikabarkan mati. Pandemi Covid-19 disebut menjadi titik awal terbengkalainya Taman Satwa Jahri Saleh ini.

Gelap dan berantakan: zona reptil di Taman Satwa Jahri Saleh yang sudah kosong. Foto: apahabar.com/Riyad.

Kesan terabaikan itu akan sangat terasa saat melihat ke zona reptil. Tak ada lagi satwa-satwa eksotis macam ular sanca, king kobra, iguana dan lain-lain, seperti dahulu.

Saat didatangi, keadaannya sudah berantakan. Terisi oleh sampah yang berhamburan di dalam ruangan koleksi. 

Begitu pula dengan beberapa zona kandang satwa lainnya. Sebagian besar telah kosong.

Pemandangan ini cukup membuat bulu kuduk merinding saat melihatnya. Terbayang kalau ada ular atau buaya yang terlepas kemudian berada di sekitar kaki anda.

Seekor buaya berada dalam kandang breeding yang cukup kumuh. Foto: apahabar.com/Riyad.

Kondisi di zona kandang yang ada satwanya juga tak kalah memprihatinkan. Kumuh, kotor, dan bau. Bagai tak pernah dibersihkan. 

Misalnya, di zona primata yang diisi oleh tiga ekor owa dan dua ekor monyet ekor panjang.

Kandang yang kotor lantas membuat kesehatan satwa di dalamnya seperti tak terawat. Dari sorot matanya, mereka tampak lesu dan murung. 

Sesekali mereka bergelantungan. Sesekali mereka menatap dengan nanar para pengunjung dari balik jeruji besi. 

Bergelantungan: seekor owa-owa menatap nanar ke arah pengunjung. Foto: apahabar.com/Riyad.

Namun begini, penulis bukanlah pakar satwa. Belum tentu kondisi demikian jelek bagi satwa 'kan?

Untuk memastikan itu, penulis kemudian menghubungi Yuliansyah Effendi, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Banjarmasin.

Rupanya, Yuliansyah membenarkan keadaan Taman Satwa Jahri Saleh memang kurang terawat dan kian memprihatinkan.

Dia juga tak memungkiri, banyak satwa-satwa di kebun binatang mini ini yang telah mati.

Namun karena baru menjabat beberapa bulan, Yuliansyah mengaku tidak tahu sepenuhnya apa faktor kematian satwa-satwa itu.

"Tapi info dari kawan-kawan, sebab kematian lebih mengarah karena usia dan kesehatan satwa," beber Yuliansyah.

Pandemi Covid-19, diperkirakannya, juga menjadi faktor bonus yang mengakibatkan kurang maksimalnya pemeliharaan.

"Bisa jadi karena Covid-19, petugas kurang maksimal dalam melakukan perawatan. Karena aktivitas mereka jadi terbatas," duganya.

Lantas, adakah rencana untuk melakukan pembenahan? Yuliansyah mengiyakan. 

Karena dia tahu, dalam dunia satwa ada istilah animals walfare (kesejahteraan hewan). Mencakup; bebas dari lapar dan haus, bebas mengekspresikan perilaku alami, bebas dari rasa sakit & penyakit, bebas dari rasa tidak nyaman, serta bebas dari rasa takut & tertekan.

Sehingga, pihaknya sempat tebersit melakukan revitalisasi dengan tujuan untuk perbaikan fasilitas, pelayanan satwa, dan penambahan koleksi binatang di tahun 2024 ini.

"Nah kalau kita mengacu pada itu, seharusnya banyak yang harus dikeluarkan," ujarnya. 

Namun, kata Yuliansyah, rencana itu sepertinya harus diurungkan. Masalahnya, Pemkot Banjarmasin masih terbelit utang kepada para kontraktor dari berbagai proyek pengerjaan di tahun sebelumnya yang mencapai Rp300 miliar.

Utang ini disebabkan karena pengeluaran dan pemasukan pemerintah kota seperti Pendapatan Asli Daerah (PAD) tak sebanding pada 2023 lalu. 

Situasi ini membuat pemkot harus melakukan refocusing anggaran di tahun 2024 untuk membayar utang tersebut.

"Salah satunya yang terdampak dinas kami. Jadi untuk revitalisasi, karena dana terfokus (utang) itu, kemungkinan pada tahun ini tidak bisa dilaksanakan," ujarnya. 

Namun, Yuliansyah masih berharap revitalisasi bisa diusulkan di APBD Perubahan 2024 pada pertengahan tahun mendatang. 

"Kalau tidak bisa, revitalisasi baru bisa dilakukan di tahun depannya lagi," tukasnya.

Rawat atau Lepas

Bagai terpenjara: seekor kakaktua dan seekor elang tak lagi bisa terbang bebas. Foto: apahabar.com/Riyad.

Pemerhati satwa di Kalimantan Selatan (Kalsel), Adenansi dibuat geram dengan kesan sikap abai Pemkot Banjarmasin terhadap kondisi Taman Satwa Jahri Saleh.

Adenansi lantas mendesak Pemkot Banjarmasin agar segera melakukan pembenahan salah satu wadah rekreasi dan edukasi masyarakat tersebut. 

"Harusnya tempat seperti ini dikelola dengan baik. Selain untuk edukasi, taman satwa juga merupakan tempat wisata murah bagi masyarakat," ujar akademisi Fakultas Pertanian Universitas Nahdhatul Ulama (UNU) Kalsel itu.

Dia mengingatkan, soal urusan mengelola kebun binatang mini ini, pemkot jangan berorientasi pada profit (PAD).

Karena, sepi atau ramainya pengunjung tidak serta-merta memengaruhi bagaimana tindakan pengelola taman satwa ini. 

"Ada atau tidak ada pengunjung, satwa yang ada wajib dirawat," tekan Adenansi. 

Pasalnya, kata Adenansi, dengan kurangnya pemeliharaan kebun binatang, sama saja membuat sengsara satwa yang ada di sana. 

Di sisi lain, penelantaran satwa juga bisa berdampak buruk terhadap masyarakat yang ada di sekitar.

"Satwa yang sakit bisa menularkan penyakit ke manusia melalui parasit, virus, atau bakteri. Dikenal dengan istilah penyakit zoonosis," jelasnya.

Sehingga, Adenansi bilang, jike pemkot tidak mampu mengelola kebun binatang dengan baik, ada baiknya satwa-satwa di sana dilepasliarkan saja ke habitatnya.

"Koordinasikan dengan BKSDA Kalsel. Ini untuk memastikan nasib satwa benar-benar aman," tandasnya.

Lemas: seekor musang pandan berada di dalam kandang kecil dan seakan tak peduli dengan kehadiran pengunjung. Foto: apahabar.com/Riyad.