Mendaki Gunung Lewati Lembah, Perjuangan Berat Guru di HST Mengajar di SDN Kecil Juhu

SDN Kecil Juhu merupakan satu-satunya sekolah dasar negeri yang berada di Kecamatan Batang Alai Timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Sekolah ini hanya bisa diak

Jamaluddin Rahmat, guru pengajar di SDN Kecil Juhu, Kecamatan Batang Alai Timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Foto-Dok Instagram Jamaluddin.

apahabar.com, BARABAI - SDN Kecil Juhu merupakan satu-satunya sekolah dasar negeri yang berada di Kecamatan Batang Alai Timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Sekolah ini hanya bisa diakses dengan berjalan kaki melewati hutan pegunungan meratus.

Untuk bisa ke SDN Kecil Juhu, seseorang harus menempuh waktu selama dua hari satu malam melewati dua gunung. Pertama adalah Gunung Penitiranggang yang memiliki ketinggian kurang lebih 700 mdpl.

Orang yang ingin menuju kesana harus menginap di Pondok Kagaringan yang berada di tengah hutan. Baru kemudian bisa melanjutkan perjalanan melewati gunung kedua yakni Gunung Kilai dengan ketinggian kurang lebih 1.500 mdpl.

"SDN Kecil Juhu saat ini memiliki 26 siswa, dari kelas 1 sampai kelas 6," kata Jamaluddin Rahmat, guru yang harus berjalan kaki dua hari satu malam untuk bisa mengajar di SDN Kecil Juhu.

Baca Juga: Dugaan Pelecehan Pelajar di Banjarmasin, Pihak Sekolah Angkat Bicara

Saat ini SDN Kecil Juhu memiliki enam ruang kelas, satu kantor, satu asrama untuk peserta didik dan satu rumah dinas guru.

"Untuk WC masih tidak ada. Sudah beberapa kali diusulkan, tapi sampai saat ini belum terealisasi. Sekolah ini juga tidak memiliki listrik. Sumber utama listrik adalah genset. Tapi pemakaiannya terbatas karena mahalnya biaya operasional," jelas alumni Pendidikan Sekolah Dasar Universitas Lambung Mangkurat itu.

Tantangan terbesar menjadi guru di sana, kata dia, adalah harus mencari referensi tambahan untuk bahan mengajar, karena sumber utama hanya buku paket.

"Buku paket pun tidak dapat semuanya naik ke sekolah karena mahalnya biaya porter yaitu Rp 20.000/kilogram," jelasnya yang saat ini sudah berstatus pegawai negeri sipil. 

Namun, kata dia, melihat antusiasme dan semangat belajar yang tinggi, dirinya akan terus berjuang dan terus bersemangat untuk mendidik mereka.

Kebutuhan pendidikan di kawasan pelosok ini juga mendapat perhatian dari Kepala Dinas Pendidikan HST, Muhammad Anhar. Sejatinya, kata dia, pemerintah sudah berupaya untuk memberikan fasilitas pendidikan di kawasan tersebut. 

"Pemenuhan pendidikan di daerah pelosok dilihat dari dua sisi, yakni sisi fasilitas dan tenaga pengajar. Dari sisi fasilitas sebenarnya sudah memenuhi. Kami sudah melalukan ekspedisi Meratus ke daerah pedalaman pada Januari 2023," ujarnya.

Baca Juga: Pemalsu Tiket Piala Dunia Solo Tertangkap, Puluhan Orang Jadi Korban

Dari hasil ekspedisi tersebut, ditemukan salah satu solusi cepat yaitu dengan cara diadakan pendidikan non formal (tutor) bagi masyarakat di daerah pelosok.

"Kemudian untuk sisi tenaga pengajar, sebagian pengajar daerah Tiga T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) sudah definitif. Walau memang ada beberapa yang masih belum merata," jelasnya.

Ia berharap di akhir 2023 dan awal 2024 mendatang, seluruh tenaga pengajar sudah definitif.

"Insyaaallah akan selesai di 2023 dan awal 2024 setelah PPPK dilantik nanti. Mereka akan kami prioritaskan memenuhi daerah Tiga T," ungkapnya.

Ia menyebut itulah alasan Kabupaten HST membuka lebih banyak formasi PPPK guru tahun 2023 ini.

"Itu bertujuan untuk memenuhi kekurangan guru di daerah terpencil. Kita memenuhinya dengan cara membuka formasi PPPK banyak di tahun ini dengan harapan akan terpenuhi sehingga kekurangan itu dapat teratasi," paparnya.

Kemudian, kata dia, untuk mendorong guru mau mengajar di daerah terpencil, pihak daerah mengadakan stimulus khusus di tunjangan daerah.

"Ada tunjangan daerah terpencil dan dari pusat ada tunjangan khusus guru untuk daerah terpencil. Kami terus perluas khususnya yang dari pusat sudah kita usulkan untuk penambahan titik lokasi yang semestinya termasuk wilayah terpencil," pungkasnya.