bakabar.com, MARABAHAN – Musim kemarau sedikit banyak mulai menunjukkan dampak terhadap sektor pertanian di Barito Kuala (Batola).
Setidaknya dalam dua pekan terakhir, cuaca panas ekstrem menyebabkan debit air di sejumlah saluran irigasi terus menurun.
Kondisi tersebut mendorong Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Batola mempercepat langkah pompanisasi agar kebutuhan air tanaman padi tetap terpenuhi.
"Sebagian besar tanaman padi telah memasuki fase pematangan, sehingga kebutuhan air tidak lagi sebesar fase vegetatif," ungkap Kepala DPTPH Batola, Wahyu Waguna, Senin (20/7).
"Meski demikian, beberapa wilayah yang mengalami keterlambatan tanam tetap membutuhkan pasokan air tambahan," imbuhnya.
Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Kecamatan Jejangkit. Keterlambatan masa tanam di daerah ini dipicu banjir, sehingga jadwal budidaya mundur dibandingkan wilayah lain.
Untuk mengatasi kondisi itu, pompanisasi pun akhirnya diterapkan. Namun upaya ini juga menghadapi tantangan, karena debit air di saluran tersier juga mulai menyusut.
Lantas sebagai solusi, DPTPH bekerja sama Dinas Perbunan dan Peternakan (Disbunnak) Batola meminta dukungan PT Putra Bangun Bersama (PBB).
Dukungan tersebut berupa penyedotan air dari sungai di Desa Alalak Padang, Kecamatan Cintapuri Darussalam, Banjar, untuk dialirkan ke saluran tersier Jejangkit.
"Air yang telah masuk ke saluran tersier selanjutnya dialirkan ke petak-petak sawah secara swadaya oleh para petani dengan dukungan fasilitas dari Distan TPH Batola," beber Wahyu.
Pompanisasi tersebut terutama diperuntukkan areal bekas HPS yang baru dibuka oleh Brigade Pangan seluas lebih dari 300 hektare.
"Pompanisasi juga dipersiapkan untuk sejumlah kecamatan lain yang dijadwalkan kembali memulai musim tanam sekitar Oktober 2026," tukas Wahyu.
Di tengah tantangan musim kemarau, capaian luas tanam padi di Batola justru melampaui target. Hingga pertengahan Juli 2026, luas tanam telah mencapai sekitar 110.000 hektare atau lebih tinggi dibanding target sebesar 102.000 hektare.
"Kami optimistis angka tersebut masih dapat bertambah, karena penghitungan luas tanam baru akan ditutup 1 September 2026," tambah Wahyu.
Di sisi lain, DPTPH Batola juga mencatat beberapa lahan yang mengalami panen kurang maksimal di Kecamatan Tamban dan Mekarsari. Namun kondisi ini bukan disebabkan kekeringan, melainkan dampak serangan penyakit tungro.
"Kami sebenarnya sudah melakukan pengendalian bersama Brigade Pangan. Namun ketika pelaksanaan di lapangan, terdapat beberapa pemilik lahan yang tidak berada di lokasi sehingga pengendalian tidak bisa dilakukan maksimal," jelas Wahyu.
"Adapun luas lahan yang tidak maksimal dipanen masih berada di bawah 1 persen, sehingga belum masuk kategori puso atau gagal panen dalam skala luas," imbuhnya.
Sementara rehabilitasi saluran juga terus dilakukan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Batola. Salah satunya saluran yang menghubungkan Desa Tabing Rimbah di Kecamatan Mandastana dengan Desa Cahaya Baru di Jejangkit.
"Rehabilitasi tersebut erat berkaitan dengan pengendalian banjir yang kerap terjadi di Jejangkit," papar Darwadi selaku Kabid Sumber Daya Air Dinas PUPR Batola.
"Kedepan kami juga berencana membuat kolam polder di Cahaya Baru yang berfungsi mengendalikan banjir dan penampungan air selama kemarau," tandasnya.