Pengembangan Produk Lokal

Kembangkan Produk Lokal, Kemenperin: Menggerakkan Ekonomi Lebih Luas

Kemenperin berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan produk-produk lokal agar bisa menjadi kebanggaan nasional.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Dody Widodo saat menjadi narasumber dalam forum bincang-bincang Bangga Total Kenal Produk Lokal di Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (6/5/2023). Foto: Kementerian Perindustrian

apahabar.com, JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan produk-produk lokal agar bisa menjadi kebanggaan nasional.

Sekretaris Jenderal Kemenperin Dody Widodo dalam kegiatan 'Bangga Total Kenal Produk Lokal' yang dihadiri oleh para pelaku industri kecil dan pemengaruh di Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (5/5) lalu menegaskan upaya yang dilakukan antara lain terus mendorong penerapan program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) hingga memfasilitasi para pelaku industri.

“Untuk mengembangkan produk lokal, kita perlu mendorong keluarga dan kerabat kita agar mau membeli dan menggunakan barang-barang buatan Indonesia. Ini akan menggerakkan ekonomi lebih luas,” katanya dalam keterangan di Jakarta, Sabtu (6/5).

Dody menjelaskan program P3DN dilakukan melalui optimalisasi belanja APBN pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan BUMN, fasilitasi sertifikat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) bagi industri kecil dan menengah (IKM), promosi, dan sosialisasi. Di sisi lain, Kemenperin juga memfasilitasi sertifikasi SNI, klinik kemasan, sertifikasi HKI, juga pendampingan bagi para pelaku industri.

Baca Juga: Penguatan Industri Furnitur, Kemenperin: SDM Kompeten Pacu Daya Saing

Salah satu contoh sukses penguatan kemampuan lokal adalah berkembangnya sentra industri logam tembaga di Tumang, Boyolali, Jawa Tengah lewat Dana Alokasi Khusus (DAK). Saat ini telah terdapat tiga sentra berdasarkan kekuatan daerah, yaitu sentra furnitur, kopi, dan produk tembaga.

“Indikator keberhasilan pengembangan industri di Boyolali adalah tingkat pengangguran nol serta masuknya investor di daerah tersebut. Terbukti sentra mampu membangkitkan ekonomi pedesaan berdasarkan kemampuan masing-masing,” jelas Dody.

Kendati demikian, Dody mengungkapkan tantangan dalam pengembangan produk lokal, terutama untuk menembus pasar internasional. Tantangan itu antara lain mempertahankan konsistensi dari segi kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan serta menjaga keberlangsungan suplai bahan baku.

Pada kesempatan yang sama, Founder Eboni Watch Afidha Fajar Adhitya mengungkapkan perjalanan bisnis jenama jam tangan berbahan kayu yang dikembangkannya.

Baca Juga: Kemenperin Jalin Kerja Sama Tingkatkan SDM Industri 'Galvanise'

Ia mengungkapkan dukungan pemerintah yang diterimanya untuk mendukung pemberdayaan pelaku industri dalam negeri.

“Salah satu dukungan yang kami dapatkan dari Kementerian Perindustrian adalah diikutsertakan dalam Creative Business Incubator di Bali Creative Industry Center (BCIC),” kata Afidha.

Begitu pula Founder PT Indotech Trimatra Abadi Antonius Agung yang membagikan pengalamannya mengembangkan bisnis pembuatan mesin roasting kopi. Ia menjelaskan, banyak dukungan yang diterima dari Kemenperin, misalnya dalam hal sertifikasi ISO, pendampingan ekspor, hingga keikutsertaan pada Hannover Messe 2023 beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Investasi Sapi Perah, Kemenperin Jajaki Kerja Sama dengan Belanda

“Kami membangun bisnis melalui kolaborasi. Pengalaman di Hannover Messe kemarin juga menunjukkan peluang kolaborasi yang begitu besar,” ujarnya.

Di Hannover Messe, Antonius menjelaskan bahwa perusahaannya menjajaki peluang kolaborasi dengan perusahaan asal Belanda untuk menciptakan kapsul kopi dengan bahan yang 60 persen biodegradable. Upaya tersebut juga sejalan dengan potensi Indonesia yang kaya dengan material yang mendukung kelestarian lingkungan.