bakabar.com, BANJARMASIN - Mengatasi persoalan sampah, Pemkot Banjarmasin menggandeng Pemkab Banjar dan Barito Kuala (Batola) untuk mengembangkan pengolahan sampah menjadi energi listrik.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari proyek besar bertajuk 'Banjarmasin Raya' yang ditetapkan sebagai salah satu lokasi pilot project nasional waste to energy melalui Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) oleh pemerintah pusat.
Sebagai langkah awal, dilakukan rapat koordinasi antara Wali Kota Banjarmasin, H Muhammad Yamin, bersama Bupati Banjar, H Saidi Mansyur, dan Bupati Batola, H Bahrul Ilmi, Kamis (2/4).
Rapat membahas sinergi lintas daerah dalam mendukung percepatan implementasi PSEL, khususnya pengelolaan sampah regional, kesiapan infrastruktur, dan skema kerja sama antarwilayah.
“Permasalahan sampah tidak bisa diselesaikan sendiri-sendiri. Diperlukan sinergi kuat antardaerah agar PSEL berjalan optimal dan memberikan manfaat luas untuk masyarakat," ungkap Yamin.
"Sinergi bersama Banjar dan Batola adalah langkah strategis untuk membangun sistem pengolahan sampah regional yang terintegrasi. Kami ingin mengubah paradigma sebagai beban, tetapi sumber energi dan peluang ekonomi," imbuhnya.
Untuk mengimplementasikan PSEL, dibutuhkan pasokan minimal 500 ton sampah per hari. Sedangkan anggaran pelaksanaan program dibiayai pemerintah pusat melalui Danantara.
Namun produksi sampah Banjarmasin hanya 491 ton per hari. Kekurangan inilah yang akan ditutupi kiriman sampah dari Banjar dan Batola. Diestimasi produksi sampah ketiga daerah ini hampir mencapai 678 ton per hari.
Menyikapi kerja sama tersebut, Saidi Mansyur memberikan dukungan karena sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto yang meminta setiap daerah harus bisa mengelola sampah menjadi energi.
"Isu lingkungan sejak dulu tidak pernah habis dibahas dan dikerjakan. Tentunya keinginan Wali Kota Banjarmasin sejalan dengan komitmen Banjar yang sedang menuju kabupaten asri," sahut Saidi.
"Kedepan kami juga menyiapkan beberapa hal, sehingga langkah-langkah konkrit ini bisa dipadupadankan. Semoga semuanya berjalan dengan baik," sambungnya.
Sementara Bahrul Ilmi mengharapkan PSEL menjadi solusi terbaik dalam penanganan persoalan sampah di Batola, Banjarmasin dan Banjar.
Terlebih setelah TPAS Tabing Rimbah overload sejak 2020, dikeluarkan banyak biaya operasional untuk mengangkut sampah ke TPAS Regional Banjarbakula di Banjarbaru.
"Banyak tantangan yang ditemui terkait pengelolaan sampah, terlebih setelah TPAS Tabing Rimbah overload sejak 2020. Makanya kami berharap PSEL bisa menjadi solusi," jelas Bahrul.
Selain menjalin kerja sama, baik Banjarmasin, Banjar dan Batola juga dapat mengajukan opsi lahan kepada Kementerian Lingkungan Hidup sebagai lokasi PSEL.
Lokasi yang diajukan adalah TPAS Tabing Rimbah, TPAS Basirih, serta lahan di sekitar Terminal Gambut Barakat (TGB) dan belakang RSJ Sambang Lihum.
Selanjutnya seluruh lokasi yang diajukan tersebut akan dikaji lebih lanjut oleh tim teknis dari kementerian untuk menentukan titik paling ideal.