bakabar.com, MARABAHAN - Seiring persaingan dunia kerja dan keterbatasan lapangan pekerjaan formal, menumbuhkan jiwa kewirausahaan sejak usia sekolah dinilai menjadi salah satu solusi untuk menciptakan generasi yang mandiri dan inovatif.
Berangkat dari semangat tersebut, Pemkab Barito Kuala (Batola) melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga, Budaya dan Pariwisata (Disporbudpar) menggelar Program Pengembangan Kapasitas Daya Saing Kepemudaan melalui Sosialisasi Wirausaha Muda Pemula.
Dalam sosialisasi di Aula Mufakat, Marabahan, Kamis (9/7) tersebut, sebanyak 80 pelajar diajak meningkatkan kesadaran, minat, keterampilan, serta pengetahuan dalam mengembangkan ide-ide bisnis kreatif dan inovatif.
Diikuti murid-murid SMA Negeri 1 Marabahan, SMK Negeri 1 Marabahan, dan MA Negeri 1 Barito Kuala, sosialisasi menghadirkan tiga narasumber berkompeten.
Mereka adalah Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Selatan, Denny Saputra, Tim Ahli Bupati (TAB) Batola Bidang Pemerintahan dan Politik, Ahmad Safari Ramadani, serta Novya Maharanie selaku Kabid Koperasi Usaha Mikro Diskopperindag Batola.
"Tentunya sosialisasi menjadi bagian penting dalam meningkatkan kapasitas daya saing pemuda, sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap wirausaha sebagai salah satu pilihan karier," papar Kepala Disporbudpar Batola, Sirpan, dalam sesi pembukaan.
"Pun kesamaan sudut pandang mengenai peran pemuda juga perlu dibangun agar generasi muda mampu meningkatkan kualitas diri, sekaligus berkontribusi dalam percepatan pembangunan daerah," sambungnya.
Sementara Denny Saputra menyampaikan bahwa Pemprov Kalsel telah memiliki berbagai kebijakan dan program yang mendorong pertumbuhan kewirausahaan di kalangan pemuda.
Beberapa di antaranya adalah pelatihan digital marketing, pelatihan manajemen kewirausahaan, pelatihan public speaking, seminar kepemudaan hingga lomba kreativitas pemuda.
"Seiring penambahan jumlah usia pemuda, peluang kerja formal semakin terbatas dan persaingan mendapatkan pekerjaan semakin tinggi. Artinya kewirausahaan menjadi salah satu solusi yang harus dipersiapkan sejak dini," beber Denny.
Kemudian dalam sesi bertema 'kreativitas pemuda dalam wirausaha', Ahmad Safari mengajak para pelajar mengubah cara pandang terhadap dunia usaha.
"Orang hanya mengenal UMKM sebagai Usaha Mikro Kecil dan Menengah. Padahal UMKM dapat dimaknai sebagai Usahakan, Manfaatkan, Kolaborasikan dan Maksimalkan," papar Safari.
Adapun sebelum memulai usaha, Safari membagikan lima pertimbangan yang perlu diperhatikan. Mulai dari memperhatikan kebutuhan Gen Z, modal terjangkau, memiliki ciri khas produk, mudah diperoleh konsumen, dan memanfaatkan potensi daerah.
Hal yang tidak kalah penting adalah pemanfaatan teknologi digital dalam strategi pemasaran. Beberapa langkah yang disarankan adalah menggunakan media sosial paling populer.
Kemudian membangun branding produk yang unik, berkolaborasi dengan kreator digital melalui endorsement, brand ambassador atau sponsor, serta memanfaatkan giveaway untuk meningkatkan jangkauan promosi.
Sementara Novya Maharanie menambahkan bahwa memulai usaha sejak usia muda memberikan banyak manfaat. Bbukan hanya untuk pelaku usaha, tetapi juga masyarakat sekitar.
"Selain membuka lapangan kerja baru, berwirausaha juga melatih kemampuan berpikir kreatif, mengelola keuangan, mengatur waktu, membangun komunikasi, serta membentuk mentalitas mandiri tanpa bergantung sepenuhnya kepada lapangan kerja formal," tegas Novya.
Novya juga mengingatkan para calon pengusaha muda untuk berani menentukan target konsumen, terus berinovasi, serta memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan.
"Kalau sudah memiliki usaha, sebaiknya segera mengurus legalitas usaha, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta terbuka terhadap berbagai masukan dari konsumen sebagai modal untuk mengembangkan bisnis berkelanjutan," tutupnya.