Nasional

Gus Jazil: Semangat Agama Bertemu Nasionalisme di Hari Santri

apahabar.com, JAKARTA – Hari Santri disebut mempertemukan semangat agama dengan nasionalisme. Hal itu diungkapkan Wakil Ketua…

Wakil Ketua MPR RI, Jazilul Fawaid. Foto-Antara

apahabar.com, JAKARTA - Hari Santri disebut mempertemukan semangat agama dengan nasionalisme. Hal itu diungkapkan Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (20/10).
Jazilul Fawaid meyakini para santri tidak akan pernah berubah pikiran untuk mempertentangkan antara agama dengan negara.

“Dari definisi itu, santri tidak akan pernah berubah pikiran untuk mempertentangkan antara agama dengan negara. Karena itu dengan Hari Santri akan semakin menguatkan bahwa masalah antara agama dengan negara sudah tuntas,” kata Jazilul dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Hal itu dikatakan Jazilul dalam acara Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang bertema “Semangat Hari Santri dan Penguatan Empat Pilar MPR Untuk Indonesia Maju”, kawasan Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Senin (19/10).

Menurut dia, Hari Santri itu sangat unik, di dunia yang memperingati Hari Santri hanya ada di Indonesia dan peringatannya bukan hanya milik satu golongan namun milik seluruh umat Islam.

Jazilul yang akrab dipanggil Gus Jazil itu membandingkan semangat perjuangan pada masa lalu dan masa sekarang, pada masa perjuangan merebut kemerdekaan, musuh bangsa Indonesia jelas yaitu Jepang dan Belanda sebagai penjajah.

“Sebab musuhnya penjajah maka musuh yang dihadapi nampak di depan mata. Kita berjuang di medan pertempuran untuk mengusir mereka,” ujarnya.

Dia menilai dalam mengisi kemerdekaan, banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sehingga dengan semangat Empat Pilar dan Hari Santri, apa yang menjadi pekerjaan besar bangsa Indonesia seperti kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan, bisa diselesaikan.

Gus Jazil merasa kecewa karena bangsa ini justru lebih sibuk dengan masalah-masalah yang tidak produktif, seperti banyaknya hoaks sehingga masyarakat perlu merenungkan kembali apa tujuan berbangsa dan bernegara.(Ant)