bakabar.com, MANADO - Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,6 mengguncang wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara, Kamis (2/4/2026) pagi sekitar pukul 06.48 Wita. Guncangan kuat tersebut menyebabkan kerusakan bangunan serta menimbulkan korban jiwa.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Utara masih melakukan pendataan dampak gempa. “Sampai saat ini masih dalam proses pendataan,” ujar Kepala BPBD Sulut, Adolf Tamengkel.
Laporan sementara mencatat satu orang meninggal dunia di Kota Manado akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Selain itu, satu warga dilaporkan mengalami patah kaki setelah melompat dari sebuah toko saat gempa terjadi.
Juru Bicara Basarnas Sulawesi Utara, Nuriadin Gumeleng, mengatakan korban meninggal telah dievakuasi ke rumah sakit. Pihaknya juga masih menelusuri kemungkinan adanya korban lain.
Di sektor infrastruktur, sedikitnya delapan rumah, satu ruas jalan, satu kantor, dan satu fasilitas umum di Kabupaten Minahasa mengalami kerusakan dengan kategori ringan hingga berat.
Stasiun Geofisika Manado mencatat sebanyak 48 gempa susulan dengan magnitudo bervariasi antara 5,5 hingga 3,1. Aktivitas gempa susulan terdeteksi hingga beberapa jam setelah gempa utama.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Namun, peringatan tersebut resmi dihentikan pada pukul 10.56 Wita.
Gelombang tsunami tertinggi tercatat setinggi 75 sentimeter di Pantai Kema, Kabupaten Minahasa Utara.
Dampak gempa juga dirasakan pada layanan publik dan aktivitas ekonomi. Sejumlah wilayah di Kota Manado dilaporkan mengalami pemadaman listrik, yang mengganggu operasional usaha, termasuk rumah makan.
Beberapa pelaku usaha kesulitan melayani pelanggan karena sistem digital dan peralatan elektronik tidak dapat digunakan. Kondisi ini memicu keluhan dari pelanggan.
“Saya sudah menunggu dua jam, tapi baru diinformasikan masih harus menunggu sambalnya,” ujar Roland, seorang pengemudi ojek daring.
Di sektor pendidikan, sejumlah sekolah dan perguruan tinggi meliburkan kegiatan belajar mengajar demi alasan keamanan. Dosen Ilmu Hukum Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Toar Palilingan, membenarkan kebijakan tersebut.
“Hari ini kampus diliburkan demi keamanan,” ujarnya.
Selain itu, SDN 32 Manado juga meliburkan siswa karena sebagian bangunan sekolah mengalami kerusakan.
Berdasarkan data BMKG, gempa berpusat di laut pada koordinat 1,25 lintang utara dan 126,27 bujur timur, dengan kedalaman 62 kilometer.(*)