Kalsel

Cerita Tuna Wicara asal Martapura: Tak Libur Menggali Dua Kubur Demi Kemanusiaan

apahabar.com, MARTAPURA – Matahari sedang terik-teriknya ketika jurnalis apahabar.com mendatangi kuburan muslimin di Desa Tungkaran, Kabupaten…

Meski tak bisa berbicara, kekurangannya itu tak menyurutkan niat Azis menguburkan jenazah Covid-19. apahabar.com/Mada

apahabar.com, MARTAPURA – Matahari sedang terik-teriknya ketika jurnalis apahabar.com mendatangi kuburan muslimin di Desa Tungkaran, Kabupaten Banjar, selepas Jumatan kemarin (13/8).

Siang itu tampak tiga pria tua tengah asyik menggali kubur. Yang menarik, mereka tampak menggunakan bahasa isyarat. Satunya tunawicara, lainnya lagi tunarungu. Namun begitu mereka tampak padu menjalin komunikasi.

“Kami sudah memahami satu sama lain, jadi tidak mungkin ada kesalahan," tutur Muhammad Gozi (60). “Dua teman saya ini bisu dan satunya lagi tidak mendengar,” sambungnya.

Tiga jam berselang, penguburan salah satu warga dilaksanakan. Gozi bersama kedua rekannya menarik diri selepas jasad dimasukkan ke liang lahad disusul kumandang azan. Sebab, tugas mereka hanya sebatas menggali kubur. “Jika bukan kami ini, siapa yang mau mengerjakan ini selama pandemi,” ujar Gozi.

Abdul Ajis, seorang penggali kubur yang memiliki kekurangan berbicara tampak menggunakan topi rimba. Menggunakan baju partai dan celana panjang yang berlumuran dengan tanah, topi itu tetap saja tak bisa menutupi raut lelah di wajahnya.

Sudah puluhan tahun ia bersama rekannya Ahmad Alian yang tunarungu itu menggeluti profesi sebagai penggali kubur. “Setiap lubang kami diupah Rp150 ribu,” jelasnya.

Saat disapa oleh apahabar.com, Ajis hanya tersenyum sambil menunjuk Gozi sebagai juru bicaranya. Sesekali ia melirik dan melempar senyum sambil melipat terpal bekas acara penguburan.

“Walau kami bertiga tidak bisa berkomunikasi layaknya orang normal, namun kami sudah mendapatkan chemistry,” ujar Gozi.

Selama pandemi, job menggali kubur mereka melonjak drastis. Dalam sehari mereka biasa menggali maksimal dua lubang kubur.

“Kalau tidak ada job, Ajis ini biasanya sedang di sawah mencari ikan. Nah, saat saya datang mengangkat tangan saja dia sudah paham jika ada yang ingin digali, sama halnya dengan Ahmad Alian (temannya yang tidak bisa mendengar, red),” ujar Gozi.

Dalam setiap penggalian liang, mereka tidak pernah mengalami miskomunikasi, apalagi salah kaprah ukuran lubang kubur.

“Walau teman-teman saya tidak bisa bicara dan tidak bisa mendengar, tapi kami tidak pernah salah, karena sudah memahami satu sama lain, walau hanya sebatas bahasa isyarat,” ujarnya.

Sudah 1,5 tahun Indonesia dirundung pandemi Covid-19. Pandemi membuat rumah sakit kian sesak, banyak nyawa terenggut akibat korona. Tenaga kesehatan, aparat keamanan kerap tak libur bekerja. Pun dengan para penggali kubur seperti, Gozi, Ajis, dan Alian.

Sejak Mei 2020 lalu yang menjadi awal mula Covid menyebar di Indonesia, Desa Tungkaran sudah menjadi wadah pemakaman jenazah Covid-19. Saat pandemi Covid-19, sudah lebih 30 jenazah dimakamkan di sana. Bicara angka pasti, tentu Gozi tak ingat. Yang jelas banyak suka duka menjadi penggali kubur.

"Sukanya itu adalah kita bisa membantu orang-orang untuk memakamkan jasad keluarga mereka, selain kami juga mendapatkan bayaran dari kerja kami," tuturnya.

Bercerita suka, belum lengkap jika tidak membahas dukanya. Duka dari pekerjaan mereka ini adalah ketika ada pekerjaan lain, namun panggilan membantu menggali kubur datang.

“Namanya sudah panggilan jiwa,” ujarnya.

Mengantisipasi hal tersebut, Gozi bersama dua rekannya kerap menggali dua lubang terlebih dahulu.

"Kami menyiapkan lebih dahulu dua lubang itu untuk nantinya jika ada yang ingin dimakamkan secara prosedur Covid-19. Soalnya, kita tidak bisa memastikan berapa dan kapan orang akan meninggal, kadang ada yang tengah malam, bahkan subuh," bebernya.

Sudah banyak duka dari keluarga jenazah pasien Covid-19 yang terekam di kepala mereka selama menjadi penggali kubur. Dalam kesempatan kemarin, ia pun berharap agar pandemi ini cepat berlalu agar kehidupan kembali berjalan normal.

"Walau penghasilan kami tidak seberapa, semoga apa yang saya kita lakukan bersama kawan-kawan menjadi ladang ibadah di hadapan Allah, " pungkasnya.

Cerita Penggali Makam Jenazah Covid-19 di Tabalong: Semangat Kemanusiaan Kalahkan Ketakutan