Banyak Bukber Bikin Bengkak Pengeluaran, Begini Membatasinya

Ajakan bukber ini biasanya diiringi permintaan transfer uang ke panitia untuk urunan membayar tempat sekaligus menunya di restoran, rumah makan atau kafe.

ACARA buka puasa bersama. (Foto: blog.kini.id/ilustrasi)

bakabar.com, BANJARMASIN - Buka puasa bersama atau bukber sudah menjadi tradisi rutin di bulan Ramadan. Namun, kegiatan yang tujuannya untuk mempererat tali silaturahmi antar teman dan saudara itu bisa saja menimbulkan masalah keuangan di kemudian hari jika tidak diantisipasi sebelumnya.

Bukan rahasia lagi bahwa di bulan Ramadan justru pengeluaran kita bisa membengkak. Pasalnya, di bulan puasa ini biasanya banyak godaan untuk membeli makanan, minuman dan jajanan lain khas Ramadan untuk berbuka.

Dan lagi, sudah menjadi kelaziman di bulan Ramadan hingga Lebaran Idulfitri harga bahan kebutuhan pokok dan barang-barang meningkat.

Selain itu, yang juga menguras isi kantong, adalah ajakan berbuka puasa bersama (bukber) dari teman alumni SD, SMP, SMA, kampus, organisasi, tempat kerja, dan sebagainya.

Ajakan bukber ini biasanya diiringi permintaan transfer uang ke panitia untuk urunan membayar tempat sekaligus menu makanannya di restoran, rumah makan atau kafe.

Nah, sudah jelas kan kegiatan bukber berkontribusi besar pada meningkatnya pengeluaran kita di bulan Ramadan. Bagi mereka yang kondisi keuangannya sehat, tentu tak ada masalah dengan besarnya pengeluaran untuk apa pun. Namun, bagi mereka yang berpenghasilan pas-pasan, tentu banyaknya ajakan bukber ini cukup memusingkan dalam mengatur keuangan.

Agar keuangan Anda tetap sehat, berikut langkah-langkah yang dikutip dari cnbcindonesia.com untuk mengurangi pengeluaran karena bukber.

1.    Tidak perlu datang ke seluruh undangan bukber

Seperti yang disebutkan, tujuan dari bukber sejatinya adalah menjadi ajang silaturahmi dengan teman maupun keluarga. Bukber kerap kali dijadikan sebagai ajang reunian dengan teman-teman lama Anda.

Apakah salah untuk menghadiri seluruh undangan buka puasa bersama dari teman maupun saudara Anda? Tentu saja tidak jika keuangan Anda masih sehat. Namun, jika sebaliknya, pertimbangkanlah untuk tidak hadir dalam semua undangan bukber.

Misalnya, Anda membatasi dengan hanya hadir di acara bukber bersama keluarga atau teman terdekat. Atau memilih bukber dengan teman alumni sekolah yang lama tak bertemu.

Dengan demikian, tentu ada ajakan bukber yang ditolak. Nah, ini yang terkadang sulit. Kita mungkin tidak bisa mengikuti semua acara bukber  karena berbagai alasan. Namun, di sisi lain, kita juga tidak ingin menyinggung perasaan orang yang mengajak kita bukber.

Lalu, apakah kita bisa menolaknya dengan cara yang sopan dan tanpa membuat orang tersebut sakit hati?

Psikolog Meity Arianty STP, MPsi mengatakan bahwa sebenarnya penolakan dalam bentuk yang halus sekalipun ternyata dapat memberikan kesan yang kurang mengenakan bagi orang yang mengajak.

Kendati demikian, kita tetap perlu menyampaikan penolakan secara jujur dan dengan alasan yang tepat. Misalnya karena ada keluarga atau pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.

"Jadi, apapun alasan kita, sebaiknya jangan berbohong terlalu berlebihan. Jujur atau apa adanya jauh lebih baik dibanding menghindar dan berbohong," ujar Meity, yang dikutip dari kompas.com.

Sependapat dengan Meity, psikolog klinis Tiara Puspita juga menyarankan kita untuk menolak ajakan bukber secara jujur dan tetap sopan.

Sampaikan alasan yang masuk akal, seperti adanya keterbatasan waktu atau kita sudah punya janji yang lain. "Beri apresiasi atas ajakan tersebut dan jelaskan bahwa kita senang bisa tetap terhubung meskipun tidak bisa hadir. Namun jika ingin tetap ikut bukber, tawarkan alternatif pertemuan di waktu lain," saran Tiara.


2.    Tentukan bujet maksimal pengeluaran bukber

Semakin banyak acara yang Anda hadiri dan makin banyak makanan yang dipesan, semakin besar pula pengeluaran Anda.

Ketahuilah bahwa akan ada kecenderungan untuk membeli hidangan tambahan saat berbuka puasa. Sebut saja, Anda akan membeli kudapan sebelum menyantap makanan utama. Selain itu, Anda bisa saja membeli lebih dari satu minuman saat bukber.

Tidak menutup kemungkinan, Anda bisa mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah atau bahkan jutaan untuk satu kali acara buka bersama. Bayangkan saja, jika Anda menghadiri lima acara atau lebih.

Untuk mewaspadai bengkaknya pengeluaran ini, tentukan saja bujet maksimal yang Anda keluarkan untuk satu kali bukber. Sebut saja maksimal Rp 200 ribu untuk satu acara bukber atau Rp 1 juta untuk seluruh acara bukber.

Demi menghemat pengeluaran, Anda juga harus lebih selektif dalam menentukan menu-menu makanan yang Anda pilih.

3.    Monitor terus pengeluaran Anda di Bulan Ramadan

Anda mungkin sudah menentukan berapa acara bukber yang akan Anda hadiri beserta bujet maksimalnya. Namun, tanpa adanya pemeriksaan berkala terhadap arus kas keuangan bulanan, bisa jadi akan muncul beberapa pengeluaran yang tak terdeteksi sumbernya dan membuat keuangan Anda berantakan.

Bisa jadi, pengeluaran Anda membengkak lantaran ongkos transportasi Anda dari tempat bukber menuju rumah naik lantaran kondisi lalu lintas yang macet dan hujan.

Ketika ada pengeluaran seperti ini, maka Anda bisa mengantisipasinya dengan mengurangi pengeluaran bukber atau mengurangi pengeluaran di pos lain yang memang bisa dikurangi.

4.    Selalu ingat dengan kewajiban finansial lain yang harus dipenuhi

Bagi Anda yang masih memiliki cicilan utang, ingatlah bahwa beban finansial itu harus segera dilunasi. Bulan Ramadan adalah bulan dimana Anda bisa melunasi sebagian utang-utang tersebut dengan THR.

Jangan sampai THR malah terpakai untuk aktivitas bukber yang cuma berlangsung beberapa jam saja.

Jika Anda tidak memiliki utang, ingatlah bahwasannya Anda punya kesempatan besar untuk berinvestasi di bulan ini.