Antar Bantuan ke Jejangkit Batola, Istri Gubernur Kalsel Minta Korban Banjir Bersabar

Istri Gubernur Kalimantan Selatan, Hj Fathul Jannah menyalurkan bantuan ke korban banjir di Desa Sampurna, Jejangkir, Barito Kuala, Kamis (15/1).

Ketua PKK Kalsel, Fathul Jannah menyalurkan bantuan ke korban banjir Batola. Foto: Biro Adpim

bakabar.com, MARABAHAN - Istri Gubernur Kalimantan Selatan, Hj Fathul Jannah menyalurkan bantuan ke korban banjir di Desa Sampurna, Jejangkir, Barito Kuala, Kamis (15/1).

Diketahui, banjir merendam rumah-rumah warga desa yang berada di ujung Kecamatan Jejangkit tersebut sudah lebih dari sebulan.

Kondisi itu memaksa masyarakat bertahan di tengah keterbatasan, bahkan sejumlah akses jalan dilaporkan terputus akibat tingginya genangan air.

Selain Desa Sampurna, bantuan juga disalurkan ke Desa Bahandang yang turut terdampak banjir.

"Musibah banjir ini tentu tidak kita harapkan. Mari kita sama-sama bersabar, semoga banjir segera surut dan masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti biasa," doa Fathul Jannah.

Dia mengaku prihatin atas kondisi warga yang harus bertahan di tengah banjir berkepanjangan.

Menurutnya, bantuan sembako yang diberikan merupakan instruksi langsung dari sang suami, H Muhidin yang kini menjabat Gubernur Kalsel.

"Meski bantuan ini tidak seberapa, semoga bisa membantu meringankan beban masyarakat. Insyaallah, pemerintah akan terus memperhatikan dan mencarikan solusi terbaik dalam penanganan banjir di wilayah ini," tutupnya.

Kepala Desa Sampurna, Mukhtar, mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian yang diberikan Pemprov Kalsel melalui kehadiran langsung istri gubernur.

"Alhamdulillah, desa kami baru sekali mendapatkan bantuan dari perusahaan swasta. Kami sangat bersyukur atas perhatian pemerintah," katanya.

Camat Jejangkit, Ardian, menjelaskan banjir di wilayahnya berdampak pada tujuh desa dengan total sekitar 2.200 kepala keluarga terdampak dengan tingkat genangan yang berbeda-beda.

Sebagian besar warga masih bertahan di rumah masing-masing karena keterbatasan tempat pengungsian dan masih memungkinkan beraktivitas meski serba terbatas.

Menurut Ardian, banjir terjadi akibat curah hujan tinggi dan luapan air sungai yang telah berlangsung cukup lama.

Ketinggian air di sejumlah desa bahkan mencapai lutut hingga pinggang orang dewasa, sehingga berdampak pada akses transportasi, perekonomian, dan aktivitas pendidikan.

Beberapa akses jalan darat sudah tidak bisa dilalui, sehingga warga terpaksa menggunakan biduk sebagai sarana transportasi utama.

"Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten dan provinsi untuk penanganan banjir serta penyaluran bantuan," tandasnya.