Alasan Kubah Guru Sekumpul Masih Ditutup, Demi Menjaga Adab dan Menghindari Penyimpangan

Pengelola Musala Ar-Raudhah Sekumpul menegaskan bahwa penutupan Kubah KH Zaini bin Abdul Ghani atau Guru Sekumpul merupakan hasil keputusan bersama yang telah m

Ini alasan kubah Guru Sekumpul masih ditutup. Foto: bakabar.com/Hasan

bakabar.com, MARATAPURA - Pengelola Musala Ar-Raudhah Sekumpul menegaskan bahwa penutupan kubah KH Zaini bin Abdul Ghani atau Guru Sekumpul merupakan hasil keputusan bersama yang telah melalui pertimbangan panjang dan matang.

Kebijakan ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan demi menjaga marwah, adab berziarah dan menghindari berbagai penyimpangan yang semakin marak terjadi di kawasan tersebut.

Dalam pemberitahuan resmi yang ditandatangani pengelola Musala Ar-Raudhah, dijelaskan bahwa penutupan kubah telah disosialisasikan sejak awal dan hingga kini belum ada keputusan untuk membukanya kembali.

Pengelola juga menegaskan tidak pernah mengizinkan aktivitas ziarah di dalam kubah, karena sejak awal kubah bukan diperuntukkan sebagai tempat ziarah.

Lantas seiring waktu, pengelola menilai terjadi penurunan adab dan pemahaman dalam berziarah. Banyak pihak dinilai mulai melupakan pesan dan ajaran Guru Sekumpul, bahkan memanfaatkan nama besar beliau untuk kepentingan duniawi dan pribadi.

Fenomena ini terlihat dari menjamurnya aktivitas jual beli, pasar dadakan hingga penginapan dengan tarif tidak wajar, terutama menjelang momen-momen tertentu seperti 5 Rajab.

Juga marak penyebaran konten foto dan video di media sosial yang tidak mencerminkan adab ziarah juga menjadi perhatian serius. Pengelola menilai hal tersebut berpotensi menimbulkan fitnah, kesalahpahaman, serta menggeser esensi ziarah dari tujuan utamanya.

"Banyak yang mengatasnamakan cinta kepada Abah Guru Sekupul, namun tidak menjaga adab sebagaimana yang beliau ajarkan," demikian salah satu poin penegasan dalam pemberitahuan tersebut.

Pengelola Musala Ar-Raudhah juga menyampaikan bahwa berbagai upaya komunikasi dengan pihak terkait telah dilakukan, namun belum membuahkan solusi konkret.

Oleh karena itu, pemasangan banner dan penutupan kubah dilakukan sebagai bentuk ikhtiar agar pesan dapat dipahami dan ditaati bersama.

Di akhir pemberitahuan, pengelola mengajak seluruh jamaah dan masyarakat untuk tetap menjaga adab, kesabaran, serta istiqamah dalam menghormati Guru Sekumpul dengan cara yang benar, sesuai dengan ajaran dan teladan beliau.

"Semoga kita semua selalu kuat, sabar, dan istiqamah menjaga Guru kita dan benar-benar berada di pihak beliau," tutup pernyataan tersebut.