Strategi Bank Indonesia

5 Jurus Jitu BI Atasi Gejolak Ekonomi Global

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan bahwa sinergi bauran kebijakan ekonomi nasional di lima area menjadi kunci untuk mempertahankan ekonomi

Ilustrasi - Layar memampilkan logo Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Kamis (17/6/2021). Foto: ANTARA

apahabar.com, JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan bahwa sinergi bauran kebijakan ekonomi nasional di lima area menjadi kunci untuk mempertahankan ekonomi Indonesia di tengah gejolak perekonomian global.

“Di bidang ekonomi, sinergi bauran kebijakan ekonomi nasional perlu semakin diperketat dalam lima area penting,” seperti dilansir Antara, Rabu (29/11).

Adapun kelima area yang dimaksud yaitu pertama, sinergi dalam kebijakan fiskal-moneter. Menurut Perry, kebijakan di area itu perlu ditingkatkan guna menjaga ketahanan dan kebangkitan ekonomi. Pengendalian inflasi dan stabilisasi pasar keuangan menjadi strategi utama BI dalam memperkuat sinergi kebijakan fiskal-moneter.

Baca Juga: PLN Menghambat Green Jobs Berkembang di Daerah

Kedua, sinergi kebijakan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) melalui koordinasi pasar keuangan dan koordinasi literasi keuangan serta perlindungan konsumen.

Dalam area kebijakan bauran itu, salah satu langkah yang diambil adalah koordinasi resolusi penanganan permasalahan di sektor keuangan yang menjadi tanggung jawab dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Untuk itu implementasi UUP2SK harus ditingkatkan. Pada tahun 2024 mendatang, sebagaian besar akan diselesaikan," ujar Perry.

Ketiga, akselerasi digitalisasi ekonomi keuangan nasional. Kebijakan tersebut diarahkan untuk mengembangkan sistem BI-RTGS Gen 3 yang lebih modern dengan standard nasional. Kemudian juga difokuskan pada pengembangan pusat data transaksi pembayaran untuk inovasi pembayaran dengan kecerdasan buatan (AI).

"Perluasan kerja sama QRIS dan BI-FAST ke Asia, pengembangan QRIS, dan Local Currency Transaction," jelas Perry.

Baca Juga: Kemendag Respons Kabar TikTok Shop Bakal Merger dengan Tokopedia

Kebijakan keempat difokuskan pada hilirisasi minerba dan non-minerba, serta kelima, sinergi dalam kebijakan perdagangan, investasi dan infrastruktur.

Lebih lanjut, Perry menilai sinergi bauran kebijakan ekonomi nasional tersebut memang diperlukan mengingat kondisi perekonomian global yang tengah menghadapi ketidakpastian.

"Fragmentasi geopolitik berdampak pada fragmentasi geoekonomi. Akibatnya, prospek ekonomi global akan meredup pada 2024 sebelum mulai bersinar kembali pada 2025," terangnya.

Baca Juga: Airlangga: Iklim Industri Kendaraan Listrik di Indonesia Meningkat

Perry mencirikan lima karakteristik dari ketidakpastian yang melanda dunia saat ini. Pertama slower & divergence growth, yang mana terjadi perlambatan ekonomi global sebesar 2,8 persen pada 2024 sebelum meningkat ke 3 persen pada 2025.

Kedua, gradual disinflation, yang berarti penurunan inflasi melambat, meskipun diberlakukan pengetatan moneter yang agresif di negara maju.

Ketiga, higher for longer, yang menandai suku bunga Federal Reserves (The Feds) masih akan tinggi pada 2024 diikuti dengan hasil US Treasury yang terus meningkat.

Baca Juga: Menanti Peran UMKM Perkuat Ekosistem Motor Listrik Lokal

Keempat, strong dollar, alias dolar AS yang masih kuat mengakibatkan tekanan depresiasi nilai tukar di seluruh dunia, termasuk rupiah.

Kelima, cash is the king, yang berarti terjadi pelarian modal dalam jumlah besar dari emerging market ke negara maju karena tingkat suku bunga yang tinggi serta imbal hasil yang lebih besar.

"Lima gejolak global tersebut berdampak negatif ke berbagai negara. Indonesia tak terkecuali, perlu kita waspadai dan antisipasi dengan respon kebijakan yang tepat untuk ketahanan dan kebangkitan ekonomi nasional," pungkasnya.